KAFE, SUATU SIANG
Siang yang
sedikit mendung. Langit gelap. Beberapa tetes hujan jatuh begitu
akumeninggalkan tempat parkir di sudut kampus. Beberapa mahasiswa yang ada
disekitar lapangan berhamburan mencari tempat berteduh. Aku pun berjalan
buru-buru,ingin sedikit menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi. Dari pagi
mulutku terasaasam, belum tersentuh kopi. Masih setengah jam lagi sebelum Arum
datang.Sedikit tergesa aku melangkahkan kaki menuju kafe kecil di sudut depan
kampus.Siang-siang begini, ditambah suasana yang dingin dan hujan membikin kafe
itupenuh. Ada yang sekadar ngobrol, makan, diskusi, menunggu seseorang -seperti
aku-mungkin, atau sekadar melamun. Tak ada hubungannya denganku. Yang
kubutuhkanhanya segelas kopi dan di dalam nanti mendapat sebuah kursi tempat
dudukkemudian membakar rokok. Itu saja.Dugaanku benar. Setelah berputar-putar
ruangan yang penuh asap itu aku mendapattempat di pinggir pintu keluar. Diapit
rombongan cewek-cewek genit yang cekikikan.Kukeluarkan rokok, membakar
sebatang, sebelum kemudian Irham datang mendekat."Pesan apa, Bung?"
Sapa laki-laki muda itu. Irham pelayan di kafe ini, masih duduk disemester
sembilan jurusan antropologi. Kami sering ngobrol saat dia sedang tak
sibuk."Kopi saja," kataku.Dia tertawa, menepuk pundakku.
"Menunggu Arum?" katanya kemudian."Hmm...hmm...." Aku masih
sibuk membakar rokok. Asem, korekku basah."Belum datang tuh," katanya, sambil mengeluarkan korek
dari saku kemudianmelemparkannya ke arahku."Iya, aku tahu." Aku
menyambut korek Irham. "Ayolah aku ingin kopi. Mulutku asam, nih."Ia menyeringai kemudian
berlalu.Secangkir kopi di siang yang hujan sambil menunggu sese- orang datang.
Aku gerahsendiri.Beberapa kali aku menghubungi nomor Arum, sekadar mengusir
kebosanan, tak ada jawaban. Barangkali telepon genggamnya dimatikan.
Mungkin ia masih sibukmeyakinkan sang dosen soal usulan judul skripsinya. Soal
berdebat, Arum jagonya.Kritis dan cenderung cerewet. Selalu ada yang salah di
matanya. Tidak maudiperintah. Hanya denganku ia tak berkutik. Tak sedikit pun
kecerewetan itu munculkalau aku punya kesalahan."Aku sudah menemukan judul
yang bagus untuk skripsiku. Peran teater dalammembentuk kepribadian, menurutku
ide yang menarik. Kamu bisa jadi sample penelitianku," katanya
malam itu. Aku terbahak mendengarnya.Aku ingat bagaimana dulu ia adalah
perempuan satu-satunya yang mampumenyelamatkan aku dari keterpurukan yang
parah. Dengannya, psikolog muda yang masih kuliah itu, aku kembali hidup.
"Tapi dosen sialan itu ngotot kalau tema initerlalu melebar, takut nggak
fokus. Sebel," ucapnya ketus.Aku tersenyum sendiri membayangkan Arum,
perempuan tomboi yang keras kepala.Ternyata, perempuan setegar Arum masih
membutuhkan air mata untukmenumpahkan emosi. Teater membentuknya jadi pribadi
yang keras kepala tetapicengeng. Tapi untunglah kuliahnya masih bisa berjalan
mulus, tidak sepertiku yangterpaksa menjadi adik kelasnnya gara-gara minggat
dari kampus empat tahun lalu.Aku mulai pusing dengan keramaian ini. Suara-suara
bising, tawa cekikikan danmataku yang tak bebas berkeliaran. Penyakitku mulai
kambuh kalau sudah begini.Aku mulai bosan. Tapi mau ke mana saat hujan
begini?Bosan makin menumpuk. Aku menghirup kopi dalam-dalam. Sesekali
matakuberkeliaran ke segala arah, siapa tahu ada orang di sekitar sini yang
kukenal. Hinggatiba-tiba pandanganku terpancang pada meja yang berada persis di
depan mejaku.Seorang gadis berkerudung tengah tertawa. Aha, ini dia. Kau pernah
melihat sebuahtawa yang merdeka? Sebuah tawa yang lepas begitu saja dari
sepasang bibir seoranggadis muda dan cantik pula, persis di antara orang
banyak? Tidak ada beban samasekali, tidak ada keterpaksaan. Begitu bebas,
begitu lepas, begitu merdeka.Lihat mata beningnya, memancarkan keriangan yang
tak mampu kuterjemahkan. Dantawanya seakan tercipta sejak ia dilahirkan. Tak
pernah lepas dari bibir mungilnyayang merah. Aku percaya, ia tak tengah
memamerkan barisan giginya yang putih rapipada setiap pengunjung di kafe ini.
Lagi pula apa pedulinya orang-orang, seoranggadis bercakap-cakap dengan
rekannya sambil tertawa adalah hal lumrah yang bisaterjadi di mana saja.
Barangkali ada sebuah cerita lucu-berantai yang diceritakanteman di depan atau
di sampingnya.Atau barangkali aku yang terlalu memperhatikan saat aku merasa
sendirian? Ah,bagaimana aku harus menjelaskan?Aku terus memperhatikan perempuan
yang bercakap-cakap sambil ketawa itu.Perempuan muda dengan kerudung merah
jambu, dengan baju gamis berwarna pink,di sebelah kanannya duduk seorang teman
perempuannya dan di sebelah kiri dandepannya beberapa lelaki.Selebihnya aku tak
tahu apakah itu memang teman-temannya atau hanya orang-orangyang menumpang
duduk di meja tersebut. Atau mungkin saja dia yang menumpangdi meja itu. Tempat
dan suasana di sini siapa yang bisa memastikan tentang siapa yangmenumpang dan
ditumpangi?Beberapa kali kami saling bertatapan sebelum kemudian ia kembali
tertawa. Takterganggu sama sekali oleh pandanganku. Saat seperti itu aku merasa
tidak ada yangdisembunyikan dari dirinya. Tidak juga tawa itu. Mengalir seperti
air.Kulihat teman perempuan di sampingnya berbisik pada si gadis sambil
melirikkubeberapa kali. Mata kami kembali bersitatap. Dia tersenyum. Pasti itu
buatku. Gila, aku mulai
edan hari ini. Laki-laki yang ada di sampingnya menatapku tidak senang.Bodoh
amat.Tiba-tiba ponselku bergetar. Dengan malas kuangkat juga, "Ya, Arum?
Di mana? Dikampus?" Aneh, tiba-tiba aku begitu malas berbicara dengan
perempuan yang sudahkukenal hampir tiga tahun itu. Perempuan aneh dan
membosankan. Arum perempuananeh dan membosankan? Tiba-tiba saja semua meluncur
begitu saja dari kepalaku."Aduh di sini hujan, sayang. Aku kayaknya nggak
bisa datang. Tadi pagi Pak Dhanitiba-tiba minta rapat mendadak membahas proyek
buku semalam. Sekarang? Nggak bisa
gitu dong, masa aku ninggalin rekan-rekan
dalam rapat ini. Ha, ya? Ya nggak tahu.Mungkin saja kelar sebelum makan siang.
Habis itu aku menjemputmu, ya?" Katakuberbohong.Di seberang Arum diam.
Kubayangkan perempuan yang tak bisa marah padaku itutengah memendam kecewa.
Tiba-tiba aku menjadi begitu tak peduli."Ya, setengah jam lagilah aku
datang." Aku mencoba menghiburnya. "Sudah ya?"Dengan tiba-tiba
aku mematikan ponselku. Rasa muak menjalar begitu saja. Entah darimana
datangnya.Hei, aku tiba-tiba saja berbohong kepada Arum. Perempuan yang
sebentar lagi akankunikahi. Kenapa aku tiba-tiba menjadi seperti ini? Adakah
karena perempuan yangtertawa dengan merdeka yang berada persis di depanku
itu?Aku tersenyum begitu melihat perempuan itu masih duduk di situ. Kali ini
dia tinggalsendirian. Dua temannya entah terbang ke mana. Kali ini dia
memandangku. Asem! Jangan-jangan dari tadi dia melihatku saat aku bicara
dengan Arum. Ah, kalau diabertanya akan kukatakan padanya bahwa tadi yang
meneleponku hanya perempuansialan yang sedikit sinting.Hujan mulai berhenti,
orang-orang mulai berebut keluar. Aku masih duduk di sini dangadis itu masih
duduk di depanku.Kenapa tiba-tiba saja aku jadi tertarik dengan perempuan yang hanya
sekali saja hadirdalam diriku pada sebuah siang, saat dia tertawa dan aku
tiba-tiba menyukainya. Apayang kutahu tentang dia? Aku telah berdusta kepada
Arum, perempuan yangmengikatkan cincin di jemari kiriku enam bulan yang lalu.
Kenapa tiba-tiba akumenjadi begitu muak dengan semua? Muak kepada perempuan
yang pernahmenyelamatkanku dari keterpurukan dan goncangan jiwa saat bencana
melandakeluargaku.Aku mendadak pusing. Dan perempuan di depanku masih duduk
sendiri. sesekalimata kami masih saling bertatap. Aku berdiri, barangkali
sebuah keberanian dankesempatan akan mengenalkan aku dengannya. Berkenalan,
bertanya nama, nomor hand phone dan waktu luangnya di akhir minggu.Atau sebuah
kemungkinan lain; aku buru-buru ke kasir, membayar minuman, lalukeluar, menghirup
udara segar seperti yang biasa aku lakukan sebelum kemudian ke tempat parkir dan menjumpai Arum,
perempuan yang beberapa saat ini tiba-tibabegitu membosankan.Entahlah.
Segalanya begitu tak pasti. Semua dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan.**
06.42 | | 0 Comments
KOTA dengan LABIRIN 1001JALAN BELAKANG
SUDAH
terlalu lama Arman menunggu. Sudah menghabiskan sepiring gado-gado,dua gelas
jus melon dan kopi, dan lima batang rokok. Kini ia, sambil me-lihat arloji,tiba
pada kesimpulan: sudah terlalu telat untuk istri yang cari selingan
denganberselingkuh. Bangkit mencari pelayan dan menanyakan toilet -- ia harus
kencing,membasuh muka, dan kembali ke meja. Membayar semua pesanan itu, dan
mintasegelas kopi -- tunai. Menunggu sekitar setengah jam lagi. Bukankah tadi
Xia bilangperlu bicara demi kelangsungan hubungan selanjutnya. Seserius itukah?
Apa iamemilih benar-benar cerai? Dan setelah itu?”Dan setelah itu,” desis Arman
sambil mempermainkan geretan. Mengangkat tanganmemanggil pelayan, memesan kopi
sambil minta bon untuk semua pesanan. Di luarhari telah gelap, lampu-lampu
kelihatan makin cerlang dalam kontras malam. Anginmenggerakkan spanduk dan tak
menimbulkan kontak apa-apa dalam ruangberdinding kaca. Lalu lintas meningkat.
Cafe menarik napas, bersiap meng-hadapimalam dengan mimpi seribu pengunjung.
Apakah Xia akan muncul men-jelang jam19.00, minta maaf karena terhambat macet
-- seperti yang dibisikkan lewat HPsetengah jam lalu. Tapi apa akan asyik
bertemu pacar saat jam suami istri bersama dikamar perkawinan telah
tiba?***SEBATANG rokok dan semangkuk kopi meruapkan aroma di meja.
ArmanMenghidupkan HP, menelepon ibunya di Madiun, menanyakan kabar dan minta
maafkarena kembali tak bisa pulang. ”Aku sebetulnya kangen pecel lik Rom,
terutamapeyek udang ketul-nya,” katanya. Ibunya bertanya, apa perlu dikirim
de-ngan Pos;dan Arman menolak usulan itu. Bilang selalu tak sempat masak, dan
lebih seringmakan di luar. Dan ibunya kembali meminta agar secepatnya punya
istri, agar adayang mengurus, dan tak makan sembarangan di luar. Arman me-nelan
ludah. Apakahberkeluarga di Jakarta akan sekonvesional itu? Atau hanya
menciptakan momenbersama selepas isya sampai Shubuh, dengan kesibukan
individual sepanjang siang,yang sesekali dihubungkan dengan komunikasi semu SMS
lewat HP? Perkawinanganda di balik hubungan tanpa ikatan dengan XiaHP
dimatikan. HP dihidupkan, dengan telepon banking mengisi pulsa, danmenghubungi
Armaniah, kakak perempuannya, dengan SMS. ”Aku bosan, BT,” ka-tanya, ”Aku
pengin pulang ke Madiun dan berwiraswasta.” Dua menit kemudiankakaknya
membalas. ”Ambil cuti. Nanti kukenalkan dengan Nestapani -- ia anakprihatin dan
mau diajak sengsara membangun masa depan,” katanya. Arman ter-mangu. Apa
persoalannya hanya perempuan yang konvensional 24 jam di rumah,amat tergantung
pada penghasilan, energi libido sisa kerja dan selingkuh suami? Apahanya sebuah
pernikahan yang konvensional yang lebih dari sekedar keber-samaanseksual
sesaat, tanpa komitmen apa-apa karena masing-masing sibuk de-ngan karierdan
impian sukses sendiri-sendiri? Dengan libido tetap dijaga, yang harus
dilepaspada selingkuhan tetap lain dan si selingan satu kantupan?***ADA sebuah
kelokan dengan arus yang menghunjam di bawah petai cina dengan latartiga rumpun
bambu yang tebal. Tebing itu dicuil membentuk lubuk dengan arus yangmembuang
endapan pasir, di seberang -- yang ditandai pohon kiara di sempadanpesawahan
berundak, yang selalu berair dan menimbulkan bunyi gemersik saat sudahsiap
panen. Ada batu-batu di pangkal arus yang menimbulkan suara air gemercik
saatkemarau, menimbulkan arus memusar kecil dengan iring-iringan sampah yang
bagaibocah bermain karnaval kecil. Lalu arus tenang karena banyak batu menghadangmuara
kelokan yang mendangkal. Cekungan teduh yang penuh suara gemerisik,gemericik,
desau angin, dalam keheningan yang membuat betah berbaring di seupilpasir
setelah berenang selusupan. Mimpi ada di pantai Eropa di tengah riuh
anak-anakloncat dari tebing dan selusupan.Apa tempat itu masih seperti itu?
Sejak lima atau empat tahun lalu ibunya bilang anak-anak sudah tidak berenang
di kali lagi -- mereka ke kolam renang, karena itu kinidibuka di beberapa
tempat. Armaniah bilang, berenang kini jadi mata pelajaranolahraga wajib sejak
di SD. Tapi berenang di kolam renang pasti berbeda denganberenang di kali.
Sensasi petualangannya berbeda. Kebersamaan liar penuh benturantapi selalu
menyenangkannya pasti berbeda. Tapi apa ia harus ziarah ke tempat itu?Selusupan
dan menangis pada Sang Hyang Sri, penunggu lubuk itu, karena di Jakartaia
selalu merasa hanya sendiri, cuma sibuk mencari duit dan menghabiskan sisa
waktudengan segala selingan yang mungkin karena tak ada motivasi lain selain
menghiburdiri. Tapi apa masih ada kacang panjang yang ditanam di pematang, dan
dipetiksebagai penangkis lapar? Atau untaian petai cina muda? Atau singkong di
tegalanyang dicabut dan dikupas dengan mulut sebelum disepah dengan kenikmatan
yanglebih tinggi dari mengulum puting susu Xia dan sembarang perempuan?***TIGA
pengunjung datang. Tampak lelah dengan setumpuk berkas yang di-letakkan dimeja
dan laptop yang kembali dihidupkan. Mereka memesan makan dan kopi.Mengeluh dan
kembali berdiskusi. Kehidupan Jakarta terus berdenyut. Mirip seekorgurita yang
menjulurkan tentakel dan membelit semua orang, dan setiap orang sepertiserangga
yang dilumpuhkan laba-laba dan dibungkus benang perangkap sebelumdionggokkan di
sudut paling sunyi. Siap disepah lalu dibuang sebagai kantongkerontang tanpa
isi. Apa makna jiwa? Apa makna ruh? Apa makna kesadaran dankerinduan akan
ketenangan di waktu senggang selepas kerja? Arman mematikanrokok. Menanting
kopi dan meneguknya. Bangkit. Memberi tanda, pamit, padapelayan dan jalan ke
pintu. Menariknya sebelum menyelinap ke luar. Memenjammerasakan tamparan udara
gerah penuh polutan.Di lobi, menghadapi angin yang berembus deras dan
menggeriapkan span-duk:Arman memenjam menahan tangis yang mau runtuh. Apakah
masih ada se-serpihkebahagiaan? Apa masih cukup waktu dan kesabaran menahan
mual meng-hibur diridalam tata pergaulan yang semata hanya menyisakan membius
diri se-lepas kerja --dengan berseluncur di labirin 1001 jalan belakang dan
selingkuh? Sebuah mobil membunyikan
tuter, tak sabar dengan gerak menikung sebuah se-peda motor.Seseorang
menyalakan korek api dan menyulut rokok. Di seberang ada neon sign yangmenyala
tak sempurna dan cuma jadi pendaan suram yang membuat papan nama ituompong --
tapi tak ada yang peduli. Seorang pengamen memainkan kord A Minor, FMinor dan E
Minor pada gitar sambil bersenandung menunggu kawannya menalatamtam. Kantung
kresek warna hitam melayang, tersuruk-suruk di tepi jalan.Malam menggeliat,
pegal menanggung semua, tapi tak ada yang peduli. Masih adakahkepedulian pada
sesama dan sekitar di Jakarta? Arman jalan. Memijit remotemenyiagakan mobil.
Dan setindak sebelum sampai. Seseorang menggebuk kuduknya,sigap mau merampas
kunci dan menodongkan pistol ketika gelagapmempertahankannya. Satu letusan
menyentak dan sebuah peluru mencacah dada.Arman terjengkang. Kunci, yang
terlempar di paving stone, dipungut oleh lelaki kekar.Yang langsung masuk dari
kiri -- temannya, dengan pistol, menyapu kesekitaran,meraih dompet di saku
belakang setelah membalikkan Arman, lantas berputar danmasuk dari kanan. Mesin
dihidupkan dengan sentakan kasar. Pintu dibanting dikanan. Mobil mendecit,
bagai meloncat ke luar. Orang-orang berda-tangan. Sebuahtaksi direm mendadak
karena dipapas oleh mobil yang bergegas ke luar. Xiamenurunkan jendela dan
berteriak memanggil. Sia-sia. Tak dipedulikan -- orang-orangitu tak mau peduli.
Orang-orang berdatangan. Tangan-tangan menunjuk sebelumsemua orang berkeliling
di sekitar Arman. Xia menahan jeritan yang mau membahanamenyatakan kaitan.
Menahan tangis. Berbalik ke taksi. Minta melaju dan menjauh darilelaki yang
diniatkan akan jadi pengganti suami yang payah. Kini impian itu sirna, iaharus
balik kandang. Untuk berapa lama?Dan malam merenggangkan ruas punggungnya.
Lantas kembali termangu -- sepertibiasanya. Tak peduli dan akan selalu tak
ambil peduli pada orang-orang yang sibukdengan diri sendiri dan urusan pribadi
masing-masing -- menyelinap dan mengendap-ngendap di labirin 1001 jalan
belakang dan selingkuh yang me-remang. Selalu.Senantiasa -- siang dan malam.
06.33 | | 0 Comments
SIRKUS
ROMBONGAN
sirkus itu muncul ke kota kami....Gempita tetabuhan yang menandai kedatangan
mereka membuat kami--anak-anakyang lagi asyik bermain jet-skateboard--langsung
menghambur menuju gerbang kota.Rombongan sirkus itu muncul dari balik
cakrawala. Debu mengepul ketika roda-rodakereta karnaval berderak menuju kota
kami. Dari kejauhan panji-panji warna-warniterlihat meliuk-liuk mengikuti musik
yang membahana. Dan kami berteriak-teriakgembira, "Sirkus! Sirkus!
Horeee!!!"Sungguh beruntung kami bisa melihat rombongan sirkus itu. Mereka
seperti nasibbaik yang tak bisa diduga atau diharap-harapkan kedatangannya.
Rombongan sirkusitu akan datang ke satu kota bila memang mereka ingin datang,
menggelarpertunjukan semalam, kemudian segera melanjutkan perjalanan. Rombongan
sirkusitu layaknya kafilah pengembara yang terus-menerus mengelilingi dunia,
melintasibenua demi benua, menyeberangi lautan dan hutan-hutan, menembus waktu
entahsejak kapan.Kisah-kisah ajaib tentang mereka sering kami dengar, serupa
dongeng yangmelambungkan fantasi kami. Banyak yang percaya, sirkus itu ada
sejak mula sabda.Merekalah arak-arakan sirkus pertama yang mengiringi
perjalanan Adam dan Eva darifirdaus ke dunia. Mereka legenda yang terus hidup
dari zaman ke zaman. Ada yangpercaya. Ada yang tidak. Karena memang tak setiap
orang pernah melihatnya. Sirkusitu tak akan mungkin kau temukan meskipun kau
telah tanpa lelah terus memburunyahingga seluruh ceruk semesta. Bukan kau yang
berhasil menemukan rombongansirkus itu. Tapi merekalah yang mendatangimu. Dan
itulah keberuntungan. Merekalahsirkus gaib berkereta nasib. Kau hanya dapat
berharap diberkahi bintang terang untukbisa melihatnya. Banyak orang hanya bisa
mendengar gema gempita suara kedatanganmereka melintasi kota, tapi tak bisa
melihat wujudnya. Orang-orang yang tak diberkatikeberuntungan itu hanya
mendengar suara arak-arakan mengapung di udara yangmakin lama makin sayup
menjauh....Beruntunglah siapa pun yang dikaruniai kesempatan menyaksikan
bermacam atraksidan keajaiban sirkus itu. Menyaksikan para hobbit bermain bola
api melintasi tali,centaur dan minotour, mumi Tutankhamun yang akan meramal
nasibmu dengankartu tarot; peri, Orc, Gollum, unta yang berjalan menembus
lubang jarum; mambang,kadal terbang Kuehneosaurus - bermacam makhluk yang kau
kira hanya bisa kautemui dalam dongeng.Kami belum pernah melihat sirkus itu.
Tapi kami yakin kalau yang muncul dari balikcakrawala itu memang rombongan
sirkus yang melegenda itu. Kami bisa mengenalidari riang rampak rebana dan
lengking nafiri yang menyertai kemunculannya.Gempita tetabuhan itu bagai muncul
dari kenangan kami yang paling purba.Rasanya, di kota kami, hanya satu orang
yang pernah melihat sirkus itu. Peter Tuayang tak henti bercerita, bagaimana
lima tahun lalu ketika ia berada di New Orleans--sehari setelah kota itu
dilanda badai Katrina untuk kesekian kalinya--ia menyaksikanrombongan sirkus
itu muncul dan waktu seperti beringsut mundur: mendadak semuabenda porak-poranda
yang dilintasi rombongan sirkus itu langsung untuk kembali.Reruntuh puing rumah
perlahan saling rekat, gedung-gedung yang roboh kembalitegak, debu lengket pada
dinding, lumpur surut ke sungai, kaca-kaca pecah jadi utuhseperti sediakala.
Peter Tua selalu menceritakan peristiwa itu dengan mata menyala-nyala.Dan kini,
betapa beruntungnya, rombongan sirkus itu singgah di kota kami.***SEKETIKA,
kami--seluruh warga Oklahoma--berjajar sepanjang jalan mengelu-elukanrombongan
sirkus yang bergerak pelan memasuki kota. Kami menyaksikan selusinkurcaci
menari-nari di atas kereta karavan, singa berambut api yang rebahan
setengahmengantuk di kandang. Dan itu…, lihat! Dumbledore! Memakai jubah dan
topipenyihir warna ungu gemerlapan, berkacamata bulan separuh, tersenyum
melambai-lambaikan tangan. Konfeti serangga mendadak berhamburan. Semua orang
bersorakriang. Karnaval keajaiban terus mengalir. Badut-badut. Penari ular.
Putri duyungberkalung mutiara air mata. Astaga, kami bahkan menyaksikan
Hippogriff, unicorn,Aragog, burung phoenix yang lahir kembali dari abu
tubuhnya, beberapa ekor pixiemungil, Dementor yang telah dijinakkan, serimbun
perdu wolfsbane yang terusmelolong--lolong, bola Bludger, sapu terbang
Nimbus--semua yang bertahun lampauhanya bisa dibaca di buku cerita klasik Harry
Potter.Kemudian kami melihat raksasa troll berkepala empat, yang tiap kepala
menghadapke satu penjuru mata angin, beruar-uar sambil memukuli canang,
"Saksikan! Keajaibanmanusia terbang! Grrhhhhh.... Terbang! Manusia
terbang! Manusia terbang! Saksikan!Grrhhhh...."Kami bersorak. Kami
bersorai.***INILAH malam paling menakjubkan dalam hidup kami yang fana. Kami
memenuhitenda raksasa, yang sepertinya tiba-tiba sudah berdiri begitu saja di
tengah kota.Keriangan mengalir seperti cahaya yang menjelma sungai fantasi.
Bermacam akrobatatraksi pertunjukan membuat kami seperti tersihir, seakan-akan
kebahagiaan ini takakan pernah berakhir. Lima kuda sembrani berputaran. Kembang
api naga. Kungfupisau terbang. Bayi bersayap jelita. Kami begitu diluapi ketakjuban
dan berharapsemoga semua keajaiban yang kami saksikan tak akan pernah berakhir,
ketika seoranggipsi tua tukang cerita muncul ke tengah arena."Saya akan
menghantar Anda ke pertunjukan utama. Keajaiban yang kalian nanti-nantikan.
Tapi, terlebih dulu, izinkan hamba bercerita."Ia merentangkan tangan,
hingga semua terdiam."Dari zaman ke zaman sirkus kami memperlihatkan
bermacam keajaiban, yang hambaharap, bisa memberi sedikit pencerahan. Apalah
guna keajaiban, bila semua itu tidakmembuat Anda jadi makin menyadari betapa
mulia dan berharganya hidup ini.Seperti yang terjadi pada manusia terbang ini.
Kami menemukannya bertahun lalu,selepas melintas Samudra Hindia. Kami tiba di
Flores, Nusa Tenggara. Dan kamimelihatnya, makhluk-makhluk malang itu!
Melayang-layang di antara reruncingstalaktit gua kapur Liang Bua. Kami
mula-mula menduga, itu kalong raksasa." Gipsitua itu sejenak menarik nafas
dalam-dalam, sampai kemudian ia menghembuskannyasembari berteriak,
"Ternyata manusia!""Aku tahu!" seorang penonton berteriak
memotong, "Itu pasti Homo Floresiensis."Gipsi tua itu tersenyum
sabar, "Ini spesies Homo sapiens yang lebih modern. Kitatahu, sampai saat
ini tak ada satu manusia modern pun yang bisa terbang. Kecualidengan bantuan
mesin. Namun, kali ini Anda akan menyaksikan sendiri manusia-manusia yang bisa
terbang melayang-layang!! Selamat menyaksikan...."Musik membahana. Cahaya
tumpah ke arena. Dari kotak-kotak yang mulai terbukaperlahan bermunculan
tubuh-tubuh yang begitu ringan, seperti ular keluar darikeranjang. Tubuh-tubuh
itu melenting ringan, mengapung mengambang seperti balongas yang membumbung. Di
pinggang mereka ada sabuk berkait yang diikat sejuntaitali, di mana
masing-masing tali itu dipegangi satu orang kate bertopi kerucut. Sesekaliada
yang membumbung sampai nempel di langit-langit tenda, dan segera orang kateyang
memegangi tali itu menariknya turun. Orang-orang kate itu berlarian
berputar-putar, persis kanak-kanak yang gembira dengan balon warna-warni di
tangan mereka."Kami terpaksa mengikat mereka. Bila tidak, mereka akan
membumbung terusss...,lenyap ke langit. Mungkin ke surga. Sudah jutaan yang
lenyap, seperti generasi yangmenguap. Yang tersisa memilih tinggal di gua-gua.
Di situlah, kami menemukanmereka...." Gipsi tua itu terus bercerita.Kami
terpana didera kengerian dan perasaan hampa. Ada yang ganjil dari
orang-orangyang melayang-layang itu. Mulut mereka kosong setengah terbuka.
Kulit cokelat-kusam mereka terlihat seperti buah sawo matang yang mulai
membusuk. Sampai kamimenyadari, sesungguhnya mereka tak bisa terbang, tapi
hanya melayang-layang.Gerangan apakah yang membuat mereka jadi seperti itu?
Mata mereka penuhkesedihan. Ini keajaiban ataukah kesengsaraan? Lidah kami
pahit, dan kami mulaiterisak. Di barisan depan, gadis-gadis menunduk tak tega.
Seorang ibu dengangemetar memeluk anaknya. Nenek bergaun hijau terisak sebak.
Seperti ada kesenduanyang pelan-pelan menangkupi kami. Ya, kami, kami disesah
kesedihan yang sama.Kami semua, semua…juga aku! Aku yang turut menyaksikan
pertunjukan itu danmenceritakan semua ini kepadamu.Aku melirik Mom dan Dad,
yang duduk di sebelahku. Mom mengatup dan memejam.Dad terlihat menahan
tangis…***
06.30 | | 0 Comments
PIKNIK
Para
pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Merekadatang untuk
menonton kota kami yang hancur. Kemunculan para pelancong itumembuat kesibukan
tersendiri di kota kami. Biasanya kami duduk-duduk di gerbangkota menandangi
para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendaraikuda, keledai, unta,
atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Mereka datangdari segala penjuru
dunia. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan.Di bawah langit senja yang
kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikansiluet iring-iringan
kafilah melintasi gurun perbatasan, membawa bermacamperbekalan piknik.
Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati, dagingasap yang
digantungkan di punuk unta terlihat bergoyang-goyang, roti kering yangdisimpan
dalam kaleng, botol-botol cuka dan saus, biskuit dan telor asin, rendangdalam
rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami.Penampilan
para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur.Kami
menduga, para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka
yangsudah terlampau bahagia. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata
bisamembosankan juga. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana
caranyamenikmati hidup yang nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal
mereka.Karena itulah mereka ramai-ramai piknik ke kota kami: menyaksikan
bagaimanaperlahan-lahan kota kami menjadi debu. Kami menyukai cara mereka
tertawa, saatmereka begitu gembira membangun tenda-tenda dan mengeluarkan
perbekalan, laluberfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puing-puing kota kami.
Kami sepertimenyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami.Kadang
mereka mengajak kami berfoto. Dan kami harus tampak menyedihkan dalamfoto-foto
mereka. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfotobersama. Mereka
tak suka bila kami terlihat tak menderita. Mereka menyukai wajahkami yang keruh
dengan kesedihan. Mata kami yang murung dan sayu. Sementaramereka—sembari
berdiri dengan latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya
tersenyum saling peluk atau merentangkan tangan lebar-lebar.Mereka segera
mencetak foto-foto itu, dan mengirimkannya dengan merpati-merpatipos ke alamat
kerabat mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami.Belakangan kami pun
tahu, kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dandiperjualbelikan hingga
ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi.Pada kartu pos yang
dikirimkannya itu, para pelancong yang sudah mengunjungi kotakami selalu
menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapaterpesonanya
mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap.Mereka
begitu gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. Bagai ada
nagamenggeliat di ceruk bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah
tanahmelintas menggemuruh di bawah kakimu. Betapa menggetarkan melihat
pohon-pohon bertumbangan dan rumah-rumah rubuh menjadi abu. Membuat hidup
parapelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap, karena bisa menyaksikan
segalasesuatu sirna begitu saja. Bagi para pelancong itu, kota kami
adalah kota paling menakjubkan yang pernahmereka saksikan. Mereka telah
berkelana ke sudut-sudut dunia, menyaksikan beragamkeajaiban di tiap kota.
Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yangdibuat dari balok-balok es
abadi, candi-candi megah yang disusun serupa tiara;menyaksikan seekor ayam emas
bertengger di atas katedral tua sebuah kota yangselalu berkokok setiap pagi.
Mereka juga telah melihat kota dengan kanal-kanal yangdialiri cahaya
kebiru-biruan. Kepada kami para pelancong itu juga bercerita perihalkota kuno
yang berdiri di atas danau bening, dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya
saling bertumpukan, dan jalan-jalannya yang menyusur dinding-dindingmenghadap
air, hingga menyerupai kota yang dibangun di atas cermin; kota
dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba; sebuah kota yang
menyerupaibenteng di ujung sebuah teluk, dengan jendela-jendela dan pintu-pintu
yang selalutertutup menyerupai gelapanggur dan hanya bisadilihat ketika senja
kala. Bahkanmereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui
dalam imajinasiseorang penyair. Tapi kota kami, menurut mereka, adalah kota
paling ajaib yangpernah mereka kunjungi.Para pelancong menyukai kota kami
karena kota kami dibangun untuk menantikeruntuhan. Banyak kota dibangun dengan
gagasan untuk sebuah keabadian, tetapitidak dengan kota kami. Kota kami berdiri
di atas lempengan bumi yang selalubergeser. Kau bisa membayangkan gerumbul awan
yang selalu bergerak danbertabrakan, seperti itulah tanah di mana kota kami
berdiri. Membuat semuabangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah
letaknya. Barisan pepohonanseakan berjalan pelan. Lorong-lorong, jalanan, dan
sungai selalu meliuk-liuk. Danketika sewaktu-waktu tanah terguncang, bangunan
dan pepohonan di kota kamisaling bertubrukan, rubuh dan runtuh menjadi
debu—serupa istana pasir yang seringkau buat di pinggir pantai ketika kau
berlibur menikmati laut.Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang
membuat para pelancong ituterpesona. Para pelancong itu segera menghambur
berlarian menuju bagian kota kamiyang runtuh, begitu mendengar kabar ada bagian
kota kami yang tergoncang porak-poranda. Dengan handycam mereka merekam
detik-detik keruntuhan itu. Merekaterpesona mendengar jerit ketakutan
orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri,gemeretak tembok-tembok retak,
suara menggemuruh yang merayap dalam tanah.Itulah detik-detik paling
menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kotakami; seolah semua itu
atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa merekasaksikan dalam hidup
mereka yang terlampau bahagia. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun
balok-balok dan batu bata. Mengais reruntuhan untukmenemukan barang-barang
berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan.Saat malam tiba, dan bintang-
bintang terasa lebih jauh di langit hitam, para pelancongitu bergerombol
berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Memetikkecapi dan
bernyanyi. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika.Dari
kejauhan kami menyaksikan mereka, merasa sedikit terhibur dan tak terlalumerasa
kesepian. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itumau
berkunjung ke kota kami. Mereka membuat kami semakin mencintai kota
kami.Membuat kami tak hendak pergi mengungsi dari kota kami. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami
adalah kota yang penuh keajaiban, kenapa kamimesti menganggap apa yang terjadi
di kota kami ini sebagai malapetaka atau bencana?Seperti yang sering dikatakan
para pelancong itu pada kami, setiap kota memangmemiliki jiwa. Itulah yang
membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. Membuat setiap
kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Keajaiban tersendiri.Setiap kota
terdiri dari gedung- gedung, sungai-sungai, kabut dan cahaya serta jiwapara
penghuninya; yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagiandirinya. Kami
sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban, runtuhtertimbun waktu.
Semua itu terjadi bukan karena semata-mata seluruh bangunan kotaitu hancur,
tetapi lebih karena kota itu tak lagi hidup dalam jiwa penghuninya. Kamitak
ingin kota kami lenyap, meski sebagian demi sebagian dari kota kami
perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Karena itulah kami selalu membangun kembali
bagian-bagian kota kami yang runtuh. Kami mendirikan kembali rumah-rumah,
jembatan,sekolah, tower dan menara, rumah sakit-rumah sakit, menanam kembali
pohon-pohon, hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami
yang hancur.Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan, seperti
burung phoenixyang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya.Kesibukan kami membangun
kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan jugabagi para pelancong itu.
Sembari menaiki pedati, para pelancong itu berkeliling kotamenyaksikan kami
yang tengah sibuk menata reruntuhan. Mereka tersenyum danmelambai ke arah kami,
seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpatipada kami. Sesekali para
pelancong itu berhenti, membagikan sekerat biskuit,sepotong dendeng, sebotol
minuman, atau sesendok madu— kemudian kembali pergiuntuk melihat-lihat bagian
lain kota kami yang masih bergerak bertabrakan danhancur. Kemudian para
pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akanmereka kisahkan pada
kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungikota kami. Mereka akan
bercerita bagaimana sebuah kota perlahan- lahan hancur dantumbuh kembali.
Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh,sementara, dan fana.
Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan inginmenyaksikannya.Bila
kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke
kota-kotabesar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota
kami. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami.
Mungkin itubisa membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Berwisatalah ke kota
kami. Jangankhawatir, kami pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan
bunga-airmata…
06.26 | | 0 Comments
Langganan:
Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Blogger news
Diberdayakan oleh Blogger.