SIRKUS

ROMBONGAN sirkus itu muncul ke kota kami....Gempita tetabuhan yang menandai kedatangan mereka membuat kami--anak-anakyang lagi asyik bermain jet-skateboard--langsung menghambur menuju gerbang kota.Rombongan sirkus itu muncul dari balik cakrawala. Debu mengepul ketika roda-rodakereta karnaval berderak menuju kota kami. Dari kejauhan panji-panji warna-warniterlihat meliuk-liuk mengikuti musik yang membahana. Dan kami berteriak-teriakgembira, "Sirkus! Sirkus! Horeee!!!"Sungguh beruntung kami bisa melihat rombongan sirkus itu. Mereka seperti nasibbaik yang tak bisa diduga atau diharap-harapkan kedatangannya. Rombongan sirkusitu akan datang ke satu kota bila memang mereka ingin datang, menggelarpertunjukan semalam, kemudian segera melanjutkan perjalanan. Rombongan sirkusitu layaknya kafilah pengembara yang terus-menerus mengelilingi dunia, melintasibenua demi benua, menyeberangi lautan dan hutan-hutan, menembus waktu entahsejak kapan.Kisah-kisah ajaib tentang mereka sering kami dengar, serupa dongeng yangmelambungkan fantasi kami. Banyak yang percaya, sirkus itu ada sejak mula sabda.Merekalah arak-arakan sirkus pertama yang mengiringi perjalanan Adam dan Eva darifirdaus ke dunia. Mereka legenda yang terus hidup dari zaman ke zaman. Ada yangpercaya. Ada yang tidak. Karena memang tak setiap orang pernah melihatnya. Sirkusitu tak akan mungkin kau temukan meskipun kau telah tanpa lelah terus memburunyahingga seluruh ceruk semesta. Bukan kau yang berhasil menemukan rombongansirkus itu. Tapi merekalah yang mendatangimu. Dan itulah keberuntungan. Merekalahsirkus gaib berkereta nasib. Kau hanya dapat berharap diberkahi bintang terang untukbisa melihatnya. Banyak orang hanya bisa mendengar gema gempita suara kedatanganmereka melintasi kota, tapi tak bisa melihat wujudnya. Orang-orang yang tak diberkatikeberuntungan itu hanya mendengar suara arak-arakan mengapung di udara yangmakin lama makin sayup menjauh....Beruntunglah siapa pun yang dikaruniai kesempatan menyaksikan bermacam atraksidan keajaiban sirkus itu. Menyaksikan para hobbit bermain bola api melintasi tali,centaur dan minotour, mumi Tutankhamun yang akan meramal nasibmu dengankartu tarot; peri, Orc, Gollum, unta yang berjalan menembus lubang jarum; mambang,kadal terbang Kuehneosaurus - bermacam makhluk yang kau kira hanya bisa kautemui dalam dongeng.Kami belum pernah melihat sirkus itu. Tapi kami yakin kalau yang muncul dari balikcakrawala itu memang rombongan sirkus yang melegenda itu. Kami bisa mengenalidari riang rampak rebana dan lengking nafiri yang menyertai kemunculannya.Gempita tetabuhan itu bagai muncul dari kenangan kami yang paling purba.Rasanya, di kota kami, hanya satu orang yang pernah melihat sirkus itu. Peter Tuayang tak henti bercerita, bagaimana lima tahun lalu ketika ia berada di New Orleans--sehari setelah kota itu dilanda badai Katrina untuk kesekian kalinya--ia menyaksikanrombongan sirkus itu muncul dan waktu seperti beringsut mundur: mendadak semuabenda porak-poranda yang dilintasi rombongan sirkus itu langsung untuk kembali.Reruntuh puing rumah perlahan saling rekat, gedung-gedung yang roboh kembalitegak, debu lengket pada dinding, lumpur surut ke sungai, kaca-kaca pecah jadi utuhseperti sediakala. Peter Tua selalu menceritakan peristiwa itu dengan mata menyala-nyala.Dan kini, betapa beruntungnya, rombongan sirkus itu singgah di kota kami.***SEKETIKA, kami--seluruh warga Oklahoma--berjajar sepanjang jalan mengelu-elukanrombongan sirkus yang bergerak pelan memasuki kota. Kami menyaksikan selusinkurcaci menari-nari di atas kereta karavan, singa berambut api yang rebahan setengahmengantuk di kandang. Dan itu…, lihat! Dumbledore! Memakai jubah dan topipenyihir warna ungu gemerlapan, berkacamata bulan separuh, tersenyum melambai-lambaikan tangan. Konfeti serangga mendadak berhamburan. Semua orang bersorakriang. Karnaval keajaiban terus mengalir. Badut-badut. Penari ular. Putri duyungberkalung mutiara air mata. Astaga, kami bahkan menyaksikan Hippogriff, unicorn,Aragog, burung phoenix yang lahir kembali dari abu tubuhnya, beberapa ekor pixiemungil, Dementor yang telah dijinakkan, serimbun perdu wolfsbane yang terusmelolong--lolong, bola Bludger, sapu terbang Nimbus--semua yang bertahun lampauhanya bisa dibaca di buku cerita klasik Harry Potter.Kemudian kami melihat raksasa troll berkepala empat, yang tiap kepala menghadapke satu penjuru mata angin, beruar-uar sambil memukuli canang, "Saksikan! Keajaibanmanusia terbang! Grrhhhhh.... Terbang! Manusia terbang! Manusia terbang! Saksikan!Grrhhhh...."Kami bersorak. Kami bersorai.***INILAH malam paling menakjubkan dalam hidup kami yang fana. Kami memenuhitenda raksasa, yang sepertinya tiba-tiba sudah berdiri begitu saja di tengah kota.Keriangan mengalir seperti cahaya yang menjelma sungai fantasi. Bermacam akrobatatraksi pertunjukan membuat kami seperti tersihir, seakan-akan kebahagiaan ini takakan pernah berakhir. Lima kuda sembrani berputaran. Kembang api naga. Kungfupisau terbang. Bayi bersayap jelita. Kami begitu diluapi ketakjuban dan berharapsemoga semua keajaiban yang kami saksikan tak akan pernah berakhir, ketika seoranggipsi tua tukang cerita muncul ke tengah arena."Saya akan menghantar Anda ke pertunjukan utama. Keajaiban yang kalian nanti-nantikan. Tapi, terlebih dulu, izinkan hamba bercerita."Ia merentangkan tangan, hingga semua terdiam."Dari zaman ke zaman sirkus kami memperlihatkan bermacam keajaiban, yang hambaharap, bisa memberi sedikit pencerahan. Apalah guna keajaiban, bila semua itu tidakmembuat Anda jadi makin menyadari betapa mulia dan berharganya hidup ini.Seperti yang terjadi pada manusia terbang ini. Kami menemukannya bertahun lalu,selepas melintas Samudra Hindia. Kami tiba di Flores, Nusa Tenggara. Dan kamimelihatnya, makhluk-makhluk malang itu! Melayang-layang di antara reruncingstalaktit gua kapur Liang Bua. Kami mula-mula menduga, itu kalong raksasa." Gipsitua itu sejenak menarik nafas dalam-dalam, sampai kemudian ia menghembuskannyasembari berteriak, "Ternyata manusia!""Aku tahu!" seorang penonton berteriak memotong, "Itu pasti Homo Floresiensis."Gipsi tua itu tersenyum sabar, "Ini spesies Homo sapiens yang lebih modern. Kitatahu, sampai saat ini tak ada satu manusia modern pun yang bisa terbang. Kecualidengan bantuan mesin. Namun, kali ini Anda akan menyaksikan sendiri manusia-manusia yang bisa terbang melayang-layang!! Selamat menyaksikan...."Musik membahana. Cahaya tumpah ke arena. Dari kotak-kotak yang mulai terbukaperlahan bermunculan tubuh-tubuh yang begitu ringan, seperti ular keluar darikeranjang. Tubuh-tubuh itu melenting ringan, mengapung mengambang seperti balongas yang membumbung. Di pinggang mereka ada sabuk berkait yang diikat sejuntaitali, di mana masing-masing tali itu dipegangi satu orang kate bertopi kerucut. Sesekaliada yang membumbung sampai nempel di langit-langit tenda, dan segera orang kateyang memegangi tali itu menariknya turun. Orang-orang kate itu berlarian berputar-putar, persis kanak-kanak yang gembira dengan balon warna-warni di tangan mereka."Kami terpaksa mengikat mereka. Bila tidak, mereka akan membumbung terusss...,lenyap ke langit. Mungkin ke surga. Sudah jutaan yang lenyap, seperti generasi yangmenguap. Yang tersisa memilih tinggal di gua-gua. Di situlah, kami menemukanmereka...." Gipsi tua itu terus bercerita.Kami terpana didera kengerian dan perasaan hampa. Ada yang ganjil dari orang-orangyang melayang-layang itu. Mulut mereka kosong setengah terbuka. Kulit cokelat-kusam mereka terlihat seperti buah sawo matang yang mulai membusuk. Sampai kamimenyadari, sesungguhnya mereka tak bisa terbang, tapi hanya melayang-layang.Gerangan apakah yang membuat mereka jadi seperti itu? Mata mereka penuhkesedihan. Ini keajaiban ataukah kesengsaraan? Lidah kami pahit, dan kami mulaiterisak. Di barisan depan, gadis-gadis menunduk tak tega. Seorang ibu dengangemetar memeluk anaknya. Nenek bergaun hijau terisak sebak. Seperti ada kesenduanyang pelan-pelan menangkupi kami. Ya, kami, kami disesah kesedihan yang sama.Kami semua, semua…juga aku! Aku yang turut menyaksikan pertunjukan itu danmenceritakan semua ini kepadamu.Aku melirik Mom dan Dad, yang duduk di sebelahku. Mom mengatup dan memejam.Dad terlihat menahan tangis…***

0 komentar:

Posting Komentar

Blogger news

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates