KAFE, SUATU SIANG

Siang yang sedikit mendung. Langit gelap. Beberapa tetes hujan jatuh begitu akumeninggalkan tempat parkir di sudut kampus. Beberapa mahasiswa yang ada disekitar lapangan berhamburan mencari tempat berteduh. Aku pun berjalan buru-buru,ingin sedikit menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi. Dari pagi mulutku terasaasam, belum tersentuh kopi. Masih setengah jam lagi sebelum Arum datang.Sedikit tergesa aku melangkahkan kaki menuju kafe kecil di sudut depan kampus.Siang-siang begini, ditambah suasana yang dingin dan hujan membikin kafe itupenuh. Ada yang sekadar ngobrol, makan, diskusi, menunggu seseorang -seperti aku-mungkin, atau sekadar melamun. Tak ada hubungannya denganku. Yang kubutuhkanhanya segelas kopi dan di dalam nanti mendapat sebuah kursi tempat dudukkemudian membakar rokok. Itu saja.Dugaanku benar. Setelah berputar-putar ruangan yang penuh asap itu aku mendapattempat di pinggir pintu keluar. Diapit rombongan cewek-cewek genit yang cekikikan.Kukeluarkan rokok, membakar sebatang, sebelum kemudian Irham datang mendekat."Pesan apa, Bung?" Sapa laki-laki muda itu. Irham pelayan di kafe ini, masih duduk disemester sembilan jurusan antropologi. Kami sering ngobrol saat dia sedang tak sibuk."Kopi saja," kataku.Dia tertawa, menepuk pundakku. "Menunggu Arum?" katanya kemudian."Hmm...hmm...." Aku masih sibuk membakar rokok. Asem, korekku basah."Belum datang tuh," katanya, sambil mengeluarkan korek dari saku kemudianmelemparkannya ke arahku."Iya, aku tahu." Aku menyambut korek Irham. "Ayolah aku ingin kopi. Mulutku asam, nih."Ia menyeringai kemudian berlalu.Secangkir kopi di siang yang hujan sambil menunggu sese- orang datang. Aku gerahsendiri.Beberapa kali aku menghubungi nomor Arum, sekadar mengusir kebosanan, tak ada jawaban. Barangkali telepon genggamnya dimatikan. Mungkin ia masih sibukmeyakinkan sang dosen soal usulan judul skripsinya. Soal berdebat, Arum jagonya.Kritis dan cenderung cerewet. Selalu ada yang salah di matanya. Tidak maudiperintah. Hanya denganku ia tak berkutik. Tak sedikit pun kecerewetan itu munculkalau aku punya kesalahan."Aku sudah menemukan judul yang bagus untuk skripsiku. Peran teater dalammembentuk kepribadian, menurutku ide yang menarik. Kamu bisa jadi sample penelitianku," katanya malam itu. Aku terbahak mendengarnya.Aku ingat bagaimana dulu ia adalah perempuan satu-satunya yang mampumenyelamatkan aku dari keterpurukan yang parah. Dengannya, psikolog muda yang masih kuliah itu, aku kembali hidup. "Tapi dosen sialan itu ngotot kalau tema initerlalu melebar, takut nggak fokus. Sebel," ucapnya ketus.Aku tersenyum sendiri membayangkan Arum, perempuan tomboi yang keras kepala.Ternyata, perempuan setegar Arum masih membutuhkan air mata untukmenumpahkan emosi. Teater membentuknya jadi pribadi yang keras kepala tetapicengeng. Tapi untunglah kuliahnya masih bisa berjalan mulus, tidak sepertiku yangterpaksa menjadi adik kelasnnya gara-gara minggat dari kampus empat tahun lalu.Aku mulai pusing dengan keramaian ini. Suara-suara bising, tawa cekikikan danmataku yang tak bebas berkeliaran. Penyakitku mulai kambuh kalau sudah begini.Aku mulai bosan. Tapi mau ke mana saat hujan begini?Bosan makin menumpuk. Aku menghirup kopi dalam-dalam. Sesekali matakuberkeliaran ke segala arah, siapa tahu ada orang di sekitar sini yang kukenal. Hinggatiba-tiba pandanganku terpancang pada meja yang berada persis di depan mejaku.Seorang gadis berkerudung tengah tertawa. Aha, ini dia. Kau pernah melihat sebuahtawa yang merdeka? Sebuah tawa yang lepas begitu saja dari sepasang bibir seoranggadis muda dan cantik pula, persis di antara orang banyak? Tidak ada beban samasekali, tidak ada keterpaksaan. Begitu bebas, begitu lepas, begitu merdeka.Lihat mata beningnya, memancarkan keriangan yang tak mampu kuterjemahkan. Dantawanya seakan tercipta sejak ia dilahirkan. Tak pernah lepas dari bibir mungilnyayang merah. Aku percaya, ia tak tengah memamerkan barisan giginya yang putih rapipada setiap pengunjung di kafe ini. Lagi pula apa pedulinya orang-orang, seoranggadis bercakap-cakap dengan rekannya sambil tertawa adalah hal lumrah yang bisaterjadi di mana saja. Barangkali ada sebuah cerita lucu-berantai yang diceritakanteman di depan atau di sampingnya.Atau barangkali aku yang terlalu memperhatikan saat aku merasa sendirian? Ah,bagaimana aku harus menjelaskan?Aku terus memperhatikan perempuan yang bercakap-cakap sambil ketawa itu.Perempuan muda dengan kerudung merah jambu, dengan baju gamis berwarna pink,di sebelah kanannya duduk seorang teman perempuannya dan di sebelah kiri dandepannya beberapa lelaki.Selebihnya aku tak tahu apakah itu memang teman-temannya atau hanya orang-orangyang menumpang duduk di meja tersebut. Atau mungkin saja dia yang menumpangdi meja itu. Tempat dan suasana di sini siapa yang bisa memastikan tentang siapa yangmenumpang dan ditumpangi?Beberapa kali kami saling bertatapan sebelum kemudian ia kembali tertawa. Takterganggu sama sekali oleh pandanganku. Saat seperti itu aku merasa tidak ada yangdisembunyikan dari dirinya. Tidak juga tawa itu. Mengalir seperti air.Kulihat teman perempuan di sampingnya berbisik pada si gadis sambil melirikkubeberapa kali. Mata kami kembali bersitatap. Dia tersenyum. Pasti itu buatku. Gila, aku mulai edan hari ini. Laki-laki yang ada di sampingnya menatapku tidak senang.Bodoh amat.Tiba-tiba ponselku bergetar. Dengan malas kuangkat juga, "Ya, Arum? Di mana? Dikampus?" Aneh, tiba-tiba aku begitu malas berbicara dengan perempuan yang sudahkukenal hampir tiga tahun itu. Perempuan aneh dan membosankan. Arum perempuananeh dan membosankan? Tiba-tiba saja semua meluncur begitu saja dari kepalaku."Aduh di sini hujan, sayang. Aku kayaknya nggak bisa datang. Tadi pagi Pak Dhanitiba-tiba minta rapat mendadak membahas proyek buku semalam. Sekarang? Nggak bisa gitu dong, masa aku ninggalin rekan-rekan dalam rapat ini. Ha, ya? Ya nggak tahu.Mungkin saja kelar sebelum makan siang. Habis itu aku menjemputmu, ya?" Katakuberbohong.Di seberang Arum diam. Kubayangkan perempuan yang tak bisa marah padaku itutengah memendam kecewa. Tiba-tiba aku menjadi begitu tak peduli."Ya, setengah jam lagilah aku datang." Aku mencoba menghiburnya. "Sudah ya?"Dengan tiba-tiba aku mematikan ponselku. Rasa muak menjalar begitu saja. Entah darimana datangnya.Hei, aku tiba-tiba saja berbohong kepada Arum. Perempuan yang sebentar lagi akankunikahi. Kenapa aku tiba-tiba menjadi seperti ini? Adakah karena perempuan yangtertawa dengan merdeka yang berada persis di depanku itu?Aku tersenyum begitu melihat perempuan itu masih duduk di situ. Kali ini dia tinggalsendirian. Dua temannya entah terbang ke mana. Kali ini dia memandangku. Asem! Jangan-jangan dari tadi dia melihatku saat aku bicara dengan Arum. Ah, kalau diabertanya akan kukatakan padanya bahwa tadi yang meneleponku hanya perempuansialan yang sedikit sinting.Hujan mulai berhenti, orang-orang mulai berebut keluar. Aku masih duduk di sini dangadis itu masih duduk di depanku.Kenapa tiba-tiba saja aku jadi tertarik dengan perempuan yang hanya sekali saja hadirdalam diriku pada sebuah siang, saat dia tertawa dan aku tiba-tiba menyukainya. Apayang kutahu tentang dia? Aku telah berdusta kepada Arum, perempuan yangmengikatkan cincin di jemari kiriku enam bulan yang lalu. Kenapa tiba-tiba akumenjadi begitu muak dengan semua? Muak kepada perempuan yang pernahmenyelamatkanku dari keterpurukan dan goncangan jiwa saat bencana melandakeluargaku.Aku mendadak pusing. Dan perempuan di depanku masih duduk sendiri. sesekalimata kami masih saling bertatap. Aku berdiri, barangkali sebuah keberanian dankesempatan akan mengenalkan aku dengannya. Berkenalan, bertanya nama, nomor hand phone dan waktu luangnya di akhir minggu.Atau sebuah kemungkinan lain; aku buru-buru ke kasir, membayar minuman, lalukeluar, menghirup udara segar seperti yang biasa aku lakukan sebelum kemudian ke tempat parkir dan menjumpai Arum, perempuan yang beberapa saat ini tiba-tibabegitu membosankan.Entahlah. Segalanya begitu tak pasti. Semua dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan.**

KOTA dengan LABIRIN 1001JALAN BELAKANG

SUDAH terlalu lama Arman menunggu. Sudah menghabiskan sepiring gado-gado,dua gelas jus melon dan kopi, dan lima batang rokok. Kini ia, sambil me-lihat arloji,tiba pada kesimpulan: sudah terlalu telat untuk istri yang cari selingan denganberselingkuh. Bangkit mencari pelayan dan menanyakan toilet -- ia harus kencing,membasuh muka, dan kembali ke meja. Membayar semua pesanan itu, dan mintasegelas kopi -- tunai. Menunggu sekitar setengah jam lagi. Bukankah tadi Xia bilangperlu bicara demi kelangsungan hubungan selanjutnya. Seserius itukah? Apa iamemilih benar-benar cerai? Dan setelah itu?”Dan setelah itu,” desis Arman sambil mempermainkan geretan. Mengangkat tanganmemanggil pelayan, memesan kopi sambil minta bon untuk semua pesanan. Di luarhari telah gelap, lampu-lampu kelihatan makin cerlang dalam kontras malam. Anginmenggerakkan spanduk dan tak menimbulkan kontak apa-apa dalam ruangberdinding kaca. Lalu lintas meningkat. Cafe menarik napas, bersiap meng-hadapimalam dengan mimpi seribu pengunjung. Apakah Xia akan muncul men-jelang jam19.00, minta maaf karena terhambat macet -- seperti yang dibisikkan lewat HPsetengah jam lalu. Tapi apa akan asyik bertemu pacar saat jam suami istri bersama dikamar perkawinan telah tiba?***SEBATANG rokok dan semangkuk kopi meruapkan aroma di meja. ArmanMenghidupkan HP, menelepon ibunya di Madiun, menanyakan kabar dan minta maafkarena kembali tak bisa pulang. ”Aku sebetulnya kangen pecel lik Rom, terutamapeyek udang ketul-nya,” katanya. Ibunya bertanya, apa perlu dikirim de-ngan Pos;dan Arman menolak usulan itu. Bilang selalu tak sempat masak, dan lebih seringmakan di luar. Dan ibunya kembali meminta agar secepatnya punya istri, agar adayang mengurus, dan tak makan sembarangan di luar. Arman me-nelan ludah. Apakahberkeluarga di Jakarta akan sekonvesional itu? Atau hanya menciptakan momenbersama selepas isya sampai Shubuh, dengan kesibukan individual sepanjang siang,yang sesekali dihubungkan dengan komunikasi semu SMS lewat HP? Perkawinanganda di balik hubungan tanpa ikatan dengan XiaHP dimatikan. HP dihidupkan, dengan telepon banking mengisi pulsa, danmenghubungi Armaniah, kakak perempuannya, dengan SMS. ”Aku bosan, BT,” ka-tanya, ”Aku pengin pulang ke Madiun dan berwiraswasta.” Dua menit kemudiankakaknya membalas. ”Ambil cuti. Nanti kukenalkan dengan Nestapani -- ia anakprihatin dan mau diajak sengsara membangun masa depan,” katanya. Arman ter-mangu. Apa persoalannya hanya perempuan yang konvensional 24 jam di rumah,amat tergantung pada penghasilan, energi libido sisa kerja dan selingkuh suami? Apahanya sebuah pernikahan yang konvensional yang lebih dari sekedar keber-samaanseksual sesaat, tanpa komitmen apa-apa karena masing-masing sibuk de-ngan karierdan impian sukses sendiri-sendiri? Dengan libido tetap dijaga, yang harus dilepaspada selingkuhan tetap lain dan si selingan satu kantupan?***ADA sebuah kelokan dengan arus yang menghunjam di bawah petai cina dengan latartiga rumpun bambu yang tebal. Tebing itu dicuil membentuk lubuk dengan arus yangmembuang endapan pasir, di seberang -- yang ditandai pohon kiara di sempadanpesawahan berundak, yang selalu berair dan menimbulkan bunyi gemersik saat sudahsiap panen. Ada batu-batu di pangkal arus yang menimbulkan suara air gemercik saatkemarau, menimbulkan arus memusar kecil dengan iring-iringan sampah yang bagaibocah bermain karnaval kecil. Lalu arus tenang karena banyak batu menghadangmuara kelokan yang mendangkal. Cekungan teduh yang penuh suara gemerisik,gemericik, desau angin, dalam keheningan yang membuat betah berbaring di seupilpasir setelah berenang selusupan. Mimpi ada di pantai Eropa di tengah riuh anak-anakloncat dari tebing dan selusupan.Apa tempat itu masih seperti itu? Sejak lima atau empat tahun lalu ibunya bilang anak-anak sudah tidak berenang di kali lagi -- mereka ke kolam renang, karena itu kinidibuka di beberapa tempat. Armaniah bilang, berenang kini jadi mata pelajaranolahraga wajib sejak di SD. Tapi berenang di kolam renang pasti berbeda denganberenang di kali. Sensasi petualangannya berbeda. Kebersamaan liar penuh benturantapi selalu menyenangkannya pasti berbeda. Tapi apa ia harus ziarah ke tempat itu?Selusupan dan menangis pada Sang Hyang Sri, penunggu lubuk itu, karena di Jakartaia selalu merasa hanya sendiri, cuma sibuk mencari duit dan menghabiskan sisa waktudengan segala selingan yang mungkin karena tak ada motivasi lain selain menghiburdiri. Tapi apa masih ada kacang panjang yang ditanam di pematang, dan dipetiksebagai penangkis lapar? Atau untaian petai cina muda? Atau singkong di tegalanyang dicabut dan dikupas dengan mulut sebelum disepah dengan kenikmatan yanglebih tinggi dari mengulum puting susu Xia dan sembarang perempuan?***TIGA pengunjung datang. Tampak lelah dengan setumpuk berkas yang di-letakkan dimeja dan laptop yang kembali dihidupkan. Mereka memesan makan dan kopi.Mengeluh dan kembali berdiskusi. Kehidupan Jakarta terus berdenyut. Mirip seekorgurita yang menjulurkan tentakel dan membelit semua orang, dan setiap orang sepertiserangga yang dilumpuhkan laba-laba dan dibungkus benang perangkap sebelumdionggokkan di sudut paling sunyi. Siap disepah lalu dibuang sebagai kantongkerontang tanpa isi. Apa makna jiwa? Apa makna ruh? Apa makna kesadaran dankerinduan akan ketenangan di waktu senggang selepas kerja? Arman mematikanrokok. Menanting kopi dan meneguknya. Bangkit. Memberi tanda, pamit, padapelayan dan jalan ke pintu. Menariknya sebelum menyelinap ke luar. Memenjammerasakan tamparan udara gerah penuh polutan.Di lobi, menghadapi angin yang berembus deras dan menggeriapkan span-duk:Arman memenjam menahan tangis yang mau runtuh. Apakah masih ada se-serpihkebahagiaan? Apa masih cukup waktu dan kesabaran menahan mual meng-hibur diridalam tata pergaulan yang semata hanya menyisakan membius diri se-lepas kerja --dengan berseluncur di labirin 1001 jalan belakang dan selingkuh? Sebuah mobil membunyikan tuter, tak sabar dengan gerak menikung sebuah se-peda motor.Seseorang menyalakan korek api dan menyulut rokok. Di seberang ada neon sign yangmenyala tak sempurna dan cuma jadi pendaan suram yang membuat papan nama ituompong -- tapi tak ada yang peduli. Seorang pengamen memainkan kord A Minor, FMinor dan E Minor pada gitar sambil bersenandung menunggu kawannya menalatamtam. Kantung kresek warna hitam melayang, tersuruk-suruk di tepi jalan.Malam menggeliat, pegal menanggung semua, tapi tak ada yang peduli. Masih adakahkepedulian pada sesama dan sekitar di Jakarta? Arman jalan. Memijit remotemenyiagakan mobil. Dan setindak sebelum sampai. Seseorang menggebuk kuduknya,sigap mau merampas kunci dan menodongkan pistol ketika gelagapmempertahankannya. Satu letusan menyentak dan sebuah peluru mencacah dada.Arman terjengkang. Kunci, yang terlempar di paving stone, dipungut oleh lelaki kekar.Yang langsung masuk dari kiri -- temannya, dengan pistol, menyapu kesekitaran,meraih dompet di saku belakang setelah membalikkan Arman, lantas berputar danmasuk dari kanan. Mesin dihidupkan dengan sentakan kasar. Pintu dibanting dikanan. Mobil mendecit, bagai meloncat ke luar. Orang-orang berda-tangan. Sebuahtaksi direm mendadak karena dipapas oleh mobil yang bergegas ke luar. Xiamenurunkan jendela dan berteriak memanggil. Sia-sia. Tak dipedulikan -- orang-orangitu tak mau peduli. Orang-orang berdatangan. Tangan-tangan menunjuk sebelumsemua orang berkeliling di sekitar Arman. Xia menahan jeritan yang mau membahanamenyatakan kaitan. Menahan tangis. Berbalik ke taksi. Minta melaju dan menjauh darilelaki yang diniatkan akan jadi pengganti suami yang payah. Kini impian itu sirna, iaharus balik kandang. Untuk berapa lama?Dan malam merenggangkan ruas punggungnya. Lantas kembali termangu -- sepertibiasanya. Tak peduli dan akan selalu tak ambil peduli pada orang-orang yang sibukdengan diri sendiri dan urusan pribadi masing-masing -- menyelinap dan mengendap-ngendap di labirin 1001 jalan belakang dan selingkuh yang me-remang. Selalu.Senantiasa -- siang dan malam.

SIRKUS

ROMBONGAN sirkus itu muncul ke kota kami....Gempita tetabuhan yang menandai kedatangan mereka membuat kami--anak-anakyang lagi asyik bermain jet-skateboard--langsung menghambur menuju gerbang kota.Rombongan sirkus itu muncul dari balik cakrawala. Debu mengepul ketika roda-rodakereta karnaval berderak menuju kota kami. Dari kejauhan panji-panji warna-warniterlihat meliuk-liuk mengikuti musik yang membahana. Dan kami berteriak-teriakgembira, "Sirkus! Sirkus! Horeee!!!"Sungguh beruntung kami bisa melihat rombongan sirkus itu. Mereka seperti nasibbaik yang tak bisa diduga atau diharap-harapkan kedatangannya. Rombongan sirkusitu akan datang ke satu kota bila memang mereka ingin datang, menggelarpertunjukan semalam, kemudian segera melanjutkan perjalanan. Rombongan sirkusitu layaknya kafilah pengembara yang terus-menerus mengelilingi dunia, melintasibenua demi benua, menyeberangi lautan dan hutan-hutan, menembus waktu entahsejak kapan.Kisah-kisah ajaib tentang mereka sering kami dengar, serupa dongeng yangmelambungkan fantasi kami. Banyak yang percaya, sirkus itu ada sejak mula sabda.Merekalah arak-arakan sirkus pertama yang mengiringi perjalanan Adam dan Eva darifirdaus ke dunia. Mereka legenda yang terus hidup dari zaman ke zaman. Ada yangpercaya. Ada yang tidak. Karena memang tak setiap orang pernah melihatnya. Sirkusitu tak akan mungkin kau temukan meskipun kau telah tanpa lelah terus memburunyahingga seluruh ceruk semesta. Bukan kau yang berhasil menemukan rombongansirkus itu. Tapi merekalah yang mendatangimu. Dan itulah keberuntungan. Merekalahsirkus gaib berkereta nasib. Kau hanya dapat berharap diberkahi bintang terang untukbisa melihatnya. Banyak orang hanya bisa mendengar gema gempita suara kedatanganmereka melintasi kota, tapi tak bisa melihat wujudnya. Orang-orang yang tak diberkatikeberuntungan itu hanya mendengar suara arak-arakan mengapung di udara yangmakin lama makin sayup menjauh....Beruntunglah siapa pun yang dikaruniai kesempatan menyaksikan bermacam atraksidan keajaiban sirkus itu. Menyaksikan para hobbit bermain bola api melintasi tali,centaur dan minotour, mumi Tutankhamun yang akan meramal nasibmu dengankartu tarot; peri, Orc, Gollum, unta yang berjalan menembus lubang jarum; mambang,kadal terbang Kuehneosaurus - bermacam makhluk yang kau kira hanya bisa kautemui dalam dongeng.Kami belum pernah melihat sirkus itu. Tapi kami yakin kalau yang muncul dari balikcakrawala itu memang rombongan sirkus yang melegenda itu. Kami bisa mengenalidari riang rampak rebana dan lengking nafiri yang menyertai kemunculannya.Gempita tetabuhan itu bagai muncul dari kenangan kami yang paling purba.Rasanya, di kota kami, hanya satu orang yang pernah melihat sirkus itu. Peter Tuayang tak henti bercerita, bagaimana lima tahun lalu ketika ia berada di New Orleans--sehari setelah kota itu dilanda badai Katrina untuk kesekian kalinya--ia menyaksikanrombongan sirkus itu muncul dan waktu seperti beringsut mundur: mendadak semuabenda porak-poranda yang dilintasi rombongan sirkus itu langsung untuk kembali.Reruntuh puing rumah perlahan saling rekat, gedung-gedung yang roboh kembalitegak, debu lengket pada dinding, lumpur surut ke sungai, kaca-kaca pecah jadi utuhseperti sediakala. Peter Tua selalu menceritakan peristiwa itu dengan mata menyala-nyala.Dan kini, betapa beruntungnya, rombongan sirkus itu singgah di kota kami.***SEKETIKA, kami--seluruh warga Oklahoma--berjajar sepanjang jalan mengelu-elukanrombongan sirkus yang bergerak pelan memasuki kota. Kami menyaksikan selusinkurcaci menari-nari di atas kereta karavan, singa berambut api yang rebahan setengahmengantuk di kandang. Dan itu…, lihat! Dumbledore! Memakai jubah dan topipenyihir warna ungu gemerlapan, berkacamata bulan separuh, tersenyum melambai-lambaikan tangan. Konfeti serangga mendadak berhamburan. Semua orang bersorakriang. Karnaval keajaiban terus mengalir. Badut-badut. Penari ular. Putri duyungberkalung mutiara air mata. Astaga, kami bahkan menyaksikan Hippogriff, unicorn,Aragog, burung phoenix yang lahir kembali dari abu tubuhnya, beberapa ekor pixiemungil, Dementor yang telah dijinakkan, serimbun perdu wolfsbane yang terusmelolong--lolong, bola Bludger, sapu terbang Nimbus--semua yang bertahun lampauhanya bisa dibaca di buku cerita klasik Harry Potter.Kemudian kami melihat raksasa troll berkepala empat, yang tiap kepala menghadapke satu penjuru mata angin, beruar-uar sambil memukuli canang, "Saksikan! Keajaibanmanusia terbang! Grrhhhhh.... Terbang! Manusia terbang! Manusia terbang! Saksikan!Grrhhhh...."Kami bersorak. Kami bersorai.***INILAH malam paling menakjubkan dalam hidup kami yang fana. Kami memenuhitenda raksasa, yang sepertinya tiba-tiba sudah berdiri begitu saja di tengah kota.Keriangan mengalir seperti cahaya yang menjelma sungai fantasi. Bermacam akrobatatraksi pertunjukan membuat kami seperti tersihir, seakan-akan kebahagiaan ini takakan pernah berakhir. Lima kuda sembrani berputaran. Kembang api naga. Kungfupisau terbang. Bayi bersayap jelita. Kami begitu diluapi ketakjuban dan berharapsemoga semua keajaiban yang kami saksikan tak akan pernah berakhir, ketika seoranggipsi tua tukang cerita muncul ke tengah arena."Saya akan menghantar Anda ke pertunjukan utama. Keajaiban yang kalian nanti-nantikan. Tapi, terlebih dulu, izinkan hamba bercerita."Ia merentangkan tangan, hingga semua terdiam."Dari zaman ke zaman sirkus kami memperlihatkan bermacam keajaiban, yang hambaharap, bisa memberi sedikit pencerahan. Apalah guna keajaiban, bila semua itu tidakmembuat Anda jadi makin menyadari betapa mulia dan berharganya hidup ini.Seperti yang terjadi pada manusia terbang ini. Kami menemukannya bertahun lalu,selepas melintas Samudra Hindia. Kami tiba di Flores, Nusa Tenggara. Dan kamimelihatnya, makhluk-makhluk malang itu! Melayang-layang di antara reruncingstalaktit gua kapur Liang Bua. Kami mula-mula menduga, itu kalong raksasa." Gipsitua itu sejenak menarik nafas dalam-dalam, sampai kemudian ia menghembuskannyasembari berteriak, "Ternyata manusia!""Aku tahu!" seorang penonton berteriak memotong, "Itu pasti Homo Floresiensis."Gipsi tua itu tersenyum sabar, "Ini spesies Homo sapiens yang lebih modern. Kitatahu, sampai saat ini tak ada satu manusia modern pun yang bisa terbang. Kecualidengan bantuan mesin. Namun, kali ini Anda akan menyaksikan sendiri manusia-manusia yang bisa terbang melayang-layang!! Selamat menyaksikan...."Musik membahana. Cahaya tumpah ke arena. Dari kotak-kotak yang mulai terbukaperlahan bermunculan tubuh-tubuh yang begitu ringan, seperti ular keluar darikeranjang. Tubuh-tubuh itu melenting ringan, mengapung mengambang seperti balongas yang membumbung. Di pinggang mereka ada sabuk berkait yang diikat sejuntaitali, di mana masing-masing tali itu dipegangi satu orang kate bertopi kerucut. Sesekaliada yang membumbung sampai nempel di langit-langit tenda, dan segera orang kateyang memegangi tali itu menariknya turun. Orang-orang kate itu berlarian berputar-putar, persis kanak-kanak yang gembira dengan balon warna-warni di tangan mereka."Kami terpaksa mengikat mereka. Bila tidak, mereka akan membumbung terusss...,lenyap ke langit. Mungkin ke surga. Sudah jutaan yang lenyap, seperti generasi yangmenguap. Yang tersisa memilih tinggal di gua-gua. Di situlah, kami menemukanmereka...." Gipsi tua itu terus bercerita.Kami terpana didera kengerian dan perasaan hampa. Ada yang ganjil dari orang-orangyang melayang-layang itu. Mulut mereka kosong setengah terbuka. Kulit cokelat-kusam mereka terlihat seperti buah sawo matang yang mulai membusuk. Sampai kamimenyadari, sesungguhnya mereka tak bisa terbang, tapi hanya melayang-layang.Gerangan apakah yang membuat mereka jadi seperti itu? Mata mereka penuhkesedihan. Ini keajaiban ataukah kesengsaraan? Lidah kami pahit, dan kami mulaiterisak. Di barisan depan, gadis-gadis menunduk tak tega. Seorang ibu dengangemetar memeluk anaknya. Nenek bergaun hijau terisak sebak. Seperti ada kesenduanyang pelan-pelan menangkupi kami. Ya, kami, kami disesah kesedihan yang sama.Kami semua, semua…juga aku! Aku yang turut menyaksikan pertunjukan itu danmenceritakan semua ini kepadamu.Aku melirik Mom dan Dad, yang duduk di sebelahku. Mom mengatup dan memejam.Dad terlihat menahan tangis…***

PIKNIK

Para pelancong mengunjungi kota kami untuk menyaksikan kepedihan. Merekadatang untuk menonton kota kami yang hancur. Kemunculan para pelancong itumembuat kesibukan tersendiri di kota kami. Biasanya kami duduk-duduk di gerbangkota menandangi para pelancong yang selalu muncul berombongan mengendaraikuda, keledai, unta, atau permadani terbang dan juga kuda sembrani. Mereka datangdari segala penjuru dunia. Dari negeri-negeri jauh yang gemerlapan.Di bawah langit senja yang kemerahan kedatangan mereka selalu terlihat bagaikansiluet iring-iringan kafilah melintasi gurun perbatasan, membawa bermacamperbekalan piknik. Berkarung-karung gandum yang diangkut gerobak pedati, dagingasap yang digantungkan di punuk unta terlihat bergoyang-goyang, roti kering yangdisimpan dalam kaleng, botol-botol cuka dan saus, biskuit dan telor asin, rendangdalam rantang—juga berdus-dus mi instan yang kadang mereka bagikan pada kami.Penampilan para pelancong yang selalu riang membuat kami sedikit merasa terhibur.Kami menduga, para pelancong itu sepertinya telah bosan dengan hidup mereka yangsudah terlampau bahagia. Hidup yang selalu dipenuhi kebahagiaan ternyata bisamembosankan juga. Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranyamenikmati hidup yang nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka.Karena itulah mereka ramai-ramai piknik ke kota kami: menyaksikan bagaimanaperlahan-lahan kota kami menjadi debu. Kami menyukai cara mereka tertawa, saatmereka begitu gembira membangun tenda-tenda dan mengeluarkan perbekalan, laluberfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puing-puing kota kami. Kami sepertimenyaksikan rombongan sirkus yang datang untuk menghibur kami.Kadang mereka mengajak kami berfoto. Dan kami harus tampak menyedihkan dalamfoto-foto mereka. Karena memang untuk itulah mereka mengajak kami berfotobersama. Mereka tak suka bila kami terlihat tak menderita. Mereka menyukai wajahkami yang keruh dengan kesedihan. Mata kami yang murung dan sayu. Sementaramereka—sembari berdiri dengan latar belakang puing-puing reruntuhan kota—berpose penuh gaya tersenyum saling peluk atau merentangkan tangan lebar-lebar.Mereka segera mencetak foto-foto itu, dan mengirimkannya dengan merpati-merpatipos ke alamat kerabat mereka yang belum sempat mengunjungi kota kami.Belakangan kami pun tahu, kalau foto-foto itu kemudian dibuat kartu pos dandiperjualbelikan hingga ke negeri-negeri dongeng terjauh yang ada di balik pelangi.Pada kartu pos yang dikirimkannya itu, para pelancong yang sudah mengunjungi kotakami selalu menuliskan kalimat-kalimat penuh ketakjuban yang menyatakan betapaterpesonanya mereka saat menyaksikan kota kami perlahan-lahan runtuh dan lenyap.Mereka begitu gembira ketika melihat tanah yang tiba-tiba bergetar. Bagai ada nagamenggeliat di ceruk bumi—atau seperti ketika kau merasakan kereta bawah tanahmelintas menggemuruh di bawah kakimu. Betapa menggetarkan melihat pohon-pohon bertumbangan dan rumah-rumah rubuh menjadi abu. Membuat hidup parapelancong yang selalu bahagia itu menjadi lengkap, karena bisa menyaksikan segalasesuatu sirna begitu saja. Bagi para pelancong itu, kota kami adalah kota paling menakjubkan yang pernahmereka saksikan. Mereka telah berkelana ke sudut-sudut dunia, menyaksikan beragamkeajaiban di tiap kota. Mereka telah menyaksikan menara-menara gantung yangdibuat dari balok-balok es abadi, candi-candi megah yang disusun serupa tiara;menyaksikan seekor ayam emas bertengger di atas katedral tua sebuah kota yangselalu berkokok setiap pagi. Mereka juga telah melihat kota dengan kanal-kanal yangdialiri cahaya kebiru-biruan. Kepada kami para pelancong itu juga bercerita perihalkota kuno yang berdiri di atas danau bening, dengan rumah-rumah yang beranda-berandanya saling bertumpukan, dan jalan-jalannya yang menyusur dinding-dindingmenghadap air, hingga menyerupai kota yang dibangun di atas cermin; kota dengan jalan layang menyerupai jejalin benang laba-laba; sebuah kota yang menyerupaibenteng di ujung sebuah teluk, dengan jendela-jendela dan pintu-pintu yang selalutertutup menyerupai gelapanggur dan hanya bisadilihat ketika senja kala. Bahkanmereka bersumpah telah mendatangi kota yang hanya bisa ditemui dalam imajinasiseorang penyair. Tapi kota kami, menurut mereka, adalah kota paling ajaib yangpernah mereka kunjungi.Para pelancong menyukai kota kami karena kota kami dibangun untuk menantikeruntuhan. Banyak kota dibangun dengan gagasan untuk sebuah keabadian, tetapitidak dengan kota kami. Kota kami berdiri di atas lempengan bumi yang selalubergeser. Kau bisa membayangkan gerumbul awan yang selalu bergerak danbertabrakan, seperti itulah tanah di mana kota kami berdiri. Membuat semuabangunan di kota kami jadi terlihat selalu berubah letaknya. Barisan pepohonanseakan berjalan pelan. Lorong-lorong, jalanan, dan sungai selalu meliuk-liuk. Danketika sewaktu-waktu tanah terguncang, bangunan dan pepohonan di kota kamisaling bertubrukan, rubuh dan runtuh menjadi debu—serupa istana pasir yang seringkau buat di pinggir pantai ketika kau berlibur menikmati laut.Rupanya itulah pemandangan paling menakjubkan yang membuat para pelancong ituterpesona. Para pelancong itu segera menghambur berlarian menuju bagian kota kamiyang runtuh, begitu mendengar kabar ada bagian kota kami yang tergoncang porak-poranda. Dengan handycam mereka merekam detik-detik keruntuhan itu. Merekaterpesona mendengar jerit ketakutan orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri,gemeretak tembok-tembok retak, suara menggemuruh yang merayap dalam tanah.Itulah detik-detik paling menakjubkan bagi para pelancong yang berkunjung ke kotakami; seolah semua itu atraksi paling spektakuler yang beruntung bisa merekasaksikan dalam hidup mereka yang terlampau bahagia. Lalu mereka memotret mayat-mayat yang tertimbun balok-balok dan batu bata. Mengais reruntuhan untukmenemukan barang-barang berharga yang bisa mereka simpan sebagai kenangan.Saat malam tiba, dan bintang- bintang terasa lebih jauh di langit hitam, para pelancongitu bergerombol berdiang di seputar api unggun sembari berbagi cerita. Memetikkecapi dan bernyanyi. Atau rebahan di dalam tenda sembari memainkan harmonika.Dari kejauhan kami menyaksikan mereka, merasa sedikit terhibur dan tak terlalumerasa kesepian. Bagaimanapun kami mesti berterima kasih karena para pelancong itumau berkunjung ke kota kami. Mereka membuat kami semakin mencintai kota kami.Membuat kami tak hendak pergi mengungsi dari kota kami. Karena bila para pelancong itu menganggap kota kami adalah kota yang penuh keajaiban, kenapa kamimesti menganggap apa yang terjadi di kota kami ini sebagai malapetaka atau bencana?Seperti yang sering dikatakan para pelancong itu pada kami, setiap kota memangmemiliki jiwa. Itulah yang membuat setiap kota tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri. Membuat setiap kota memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Keajaiban tersendiri.Setiap kota terdiri dari gedung- gedung, sungai-sungai, kabut dan cahaya serta jiwapara penghuninya; yang mencintai dan mau menerima kota itu menjadi bagiandirinya. Kami sering mendengar kota-kota yang lenyap dari peradaban, runtuhtertimbun waktu. Semua itu terjadi bukan karena semata-mata seluruh bangunan kotaitu hancur, tetapi lebih karena kota itu tak lagi hidup dalam jiwa penghuninya. Kamitak ingin kota kami lenyap, meski sebagian demi sebagian dari kota kami perlahan-lahan runtuh menjadi debu. Karena itulah kami selalu membangun kembali bagian-bagian kota kami yang runtuh. Kami mendirikan kembali rumah-rumah, jembatan,sekolah, tower dan menara, rumah sakit-rumah sakit, menanam kembali pohon-pohon, hingga di bekas reruntuhan itu kembali berdiri bagian kota kami yang hancur.Kota kami bagaikan selalu muncul kembali dari reruntuhan, seperti burung phoenixyang hidup kembali dari tumpukan abu tubuhnya.Kesibukan kami membangun kembali bagian kota yang runtuh menjadi tontonan jugabagi para pelancong itu. Sembari menaiki pedati, para pelancong itu berkeliling kotamenyaksikan kami yang tengah sibuk menata reruntuhan. Mereka tersenyum danmelambai ke arah kami, seakan dengan begitu mereka telah menunjukkan simpatipada kami. Sesekali para pelancong itu berhenti, membagikan sekerat biskuit,sepotong dendeng, sebotol minuman, atau sesendok madu— kemudian kembali pergiuntuk melihat-lihat bagian lain kota kami yang masih bergerak bertabrakan danhancur. Kemudian para pelancong itu pergi dengan bermacam cerita ajaib yang akanmereka kisahkan pada kebarat dan kenalan mereka yang belum sempat mengunjungikota kami. Mereka akan bercerita bagaimana sebuah kota perlahan- lahan hancur dantumbuh kembali. Sebuah kota yang akan mengingatkanmu pada yang rapuh,sementara, dan fana. Sebuah kota yang membuat para pelancong berdatangan inginmenyaksikannya.Bila kau merencanakan liburan akhir pekan—dan kau sudah bosan piknik ke kota-kotabesar dunia yang megah dan gemerlap—ada baiknya kau berkunjung ke kota kami. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan penderitaan kami. Mungkin itubisa membuatmu sedikit terhibur dan gembira. Berwisatalah ke kota kami. Jangankhawatir, kami pasti akan menyambut kedatanganmu dengan kalungan bunga-airmata…

Blogger news

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates