KOTA dengan LABIRIN 1001JALAN BELAKANG
SUDAH
terlalu lama Arman menunggu. Sudah menghabiskan sepiring gado-gado,dua gelas
jus melon dan kopi, dan lima batang rokok. Kini ia, sambil me-lihat arloji,tiba
pada kesimpulan: sudah terlalu telat untuk istri yang cari selingan
denganberselingkuh. Bangkit mencari pelayan dan menanyakan toilet -- ia harus
kencing,membasuh muka, dan kembali ke meja. Membayar semua pesanan itu, dan
mintasegelas kopi -- tunai. Menunggu sekitar setengah jam lagi. Bukankah tadi
Xia bilangperlu bicara demi kelangsungan hubungan selanjutnya. Seserius itukah?
Apa iamemilih benar-benar cerai? Dan setelah itu?”Dan setelah itu,” desis Arman
sambil mempermainkan geretan. Mengangkat tanganmemanggil pelayan, memesan kopi
sambil minta bon untuk semua pesanan. Di luarhari telah gelap, lampu-lampu
kelihatan makin cerlang dalam kontras malam. Anginmenggerakkan spanduk dan tak
menimbulkan kontak apa-apa dalam ruangberdinding kaca. Lalu lintas meningkat.
Cafe menarik napas, bersiap meng-hadapimalam dengan mimpi seribu pengunjung.
Apakah Xia akan muncul men-jelang jam19.00, minta maaf karena terhambat macet
-- seperti yang dibisikkan lewat HPsetengah jam lalu. Tapi apa akan asyik
bertemu pacar saat jam suami istri bersama dikamar perkawinan telah
tiba?***SEBATANG rokok dan semangkuk kopi meruapkan aroma di meja.
ArmanMenghidupkan HP, menelepon ibunya di Madiun, menanyakan kabar dan minta
maafkarena kembali tak bisa pulang. ”Aku sebetulnya kangen pecel lik Rom,
terutamapeyek udang ketul-nya,” katanya. Ibunya bertanya, apa perlu dikirim
de-ngan Pos;dan Arman menolak usulan itu. Bilang selalu tak sempat masak, dan
lebih seringmakan di luar. Dan ibunya kembali meminta agar secepatnya punya
istri, agar adayang mengurus, dan tak makan sembarangan di luar. Arman me-nelan
ludah. Apakahberkeluarga di Jakarta akan sekonvesional itu? Atau hanya
menciptakan momenbersama selepas isya sampai Shubuh, dengan kesibukan
individual sepanjang siang,yang sesekali dihubungkan dengan komunikasi semu SMS
lewat HP? Perkawinanganda di balik hubungan tanpa ikatan dengan XiaHP
dimatikan. HP dihidupkan, dengan telepon banking mengisi pulsa, danmenghubungi
Armaniah, kakak perempuannya, dengan SMS. ”Aku bosan, BT,” ka-tanya, ”Aku
pengin pulang ke Madiun dan berwiraswasta.” Dua menit kemudiankakaknya
membalas. ”Ambil cuti. Nanti kukenalkan dengan Nestapani -- ia anakprihatin dan
mau diajak sengsara membangun masa depan,” katanya. Arman ter-mangu. Apa
persoalannya hanya perempuan yang konvensional 24 jam di rumah,amat tergantung
pada penghasilan, energi libido sisa kerja dan selingkuh suami? Apahanya sebuah
pernikahan yang konvensional yang lebih dari sekedar keber-samaanseksual
sesaat, tanpa komitmen apa-apa karena masing-masing sibuk de-ngan karierdan
impian sukses sendiri-sendiri? Dengan libido tetap dijaga, yang harus
dilepaspada selingkuhan tetap lain dan si selingan satu kantupan?***ADA sebuah
kelokan dengan arus yang menghunjam di bawah petai cina dengan latartiga rumpun
bambu yang tebal. Tebing itu dicuil membentuk lubuk dengan arus yangmembuang
endapan pasir, di seberang -- yang ditandai pohon kiara di sempadanpesawahan
berundak, yang selalu berair dan menimbulkan bunyi gemersik saat sudahsiap
panen. Ada batu-batu di pangkal arus yang menimbulkan suara air gemercik
saatkemarau, menimbulkan arus memusar kecil dengan iring-iringan sampah yang
bagaibocah bermain karnaval kecil. Lalu arus tenang karena banyak batu menghadangmuara
kelokan yang mendangkal. Cekungan teduh yang penuh suara gemerisik,gemericik,
desau angin, dalam keheningan yang membuat betah berbaring di seupilpasir
setelah berenang selusupan. Mimpi ada di pantai Eropa di tengah riuh
anak-anakloncat dari tebing dan selusupan.Apa tempat itu masih seperti itu?
Sejak lima atau empat tahun lalu ibunya bilang anak-anak sudah tidak berenang
di kali lagi -- mereka ke kolam renang, karena itu kinidibuka di beberapa
tempat. Armaniah bilang, berenang kini jadi mata pelajaranolahraga wajib sejak
di SD. Tapi berenang di kolam renang pasti berbeda denganberenang di kali.
Sensasi petualangannya berbeda. Kebersamaan liar penuh benturantapi selalu
menyenangkannya pasti berbeda. Tapi apa ia harus ziarah ke tempat itu?Selusupan
dan menangis pada Sang Hyang Sri, penunggu lubuk itu, karena di Jakartaia
selalu merasa hanya sendiri, cuma sibuk mencari duit dan menghabiskan sisa
waktudengan segala selingan yang mungkin karena tak ada motivasi lain selain
menghiburdiri. Tapi apa masih ada kacang panjang yang ditanam di pematang, dan
dipetiksebagai penangkis lapar? Atau untaian petai cina muda? Atau singkong di
tegalanyang dicabut dan dikupas dengan mulut sebelum disepah dengan kenikmatan
yanglebih tinggi dari mengulum puting susu Xia dan sembarang perempuan?***TIGA
pengunjung datang. Tampak lelah dengan setumpuk berkas yang di-letakkan dimeja
dan laptop yang kembali dihidupkan. Mereka memesan makan dan kopi.Mengeluh dan
kembali berdiskusi. Kehidupan Jakarta terus berdenyut. Mirip seekorgurita yang
menjulurkan tentakel dan membelit semua orang, dan setiap orang sepertiserangga
yang dilumpuhkan laba-laba dan dibungkus benang perangkap sebelumdionggokkan di
sudut paling sunyi. Siap disepah lalu dibuang sebagai kantongkerontang tanpa
isi. Apa makna jiwa? Apa makna ruh? Apa makna kesadaran dankerinduan akan
ketenangan di waktu senggang selepas kerja? Arman mematikanrokok. Menanting
kopi dan meneguknya. Bangkit. Memberi tanda, pamit, padapelayan dan jalan ke
pintu. Menariknya sebelum menyelinap ke luar. Memenjammerasakan tamparan udara
gerah penuh polutan.Di lobi, menghadapi angin yang berembus deras dan
menggeriapkan span-duk:Arman memenjam menahan tangis yang mau runtuh. Apakah
masih ada se-serpihkebahagiaan? Apa masih cukup waktu dan kesabaran menahan
mual meng-hibur diridalam tata pergaulan yang semata hanya menyisakan membius
diri se-lepas kerja --dengan berseluncur di labirin 1001 jalan belakang dan
selingkuh? Sebuah mobil membunyikan
tuter, tak sabar dengan gerak menikung sebuah se-peda motor.Seseorang
menyalakan korek api dan menyulut rokok. Di seberang ada neon sign yangmenyala
tak sempurna dan cuma jadi pendaan suram yang membuat papan nama ituompong --
tapi tak ada yang peduli. Seorang pengamen memainkan kord A Minor, FMinor dan E
Minor pada gitar sambil bersenandung menunggu kawannya menalatamtam. Kantung
kresek warna hitam melayang, tersuruk-suruk di tepi jalan.Malam menggeliat,
pegal menanggung semua, tapi tak ada yang peduli. Masih adakahkepedulian pada
sesama dan sekitar di Jakarta? Arman jalan. Memijit remotemenyiagakan mobil.
Dan setindak sebelum sampai. Seseorang menggebuk kuduknya,sigap mau merampas
kunci dan menodongkan pistol ketika gelagapmempertahankannya. Satu letusan
menyentak dan sebuah peluru mencacah dada.Arman terjengkang. Kunci, yang
terlempar di paving stone, dipungut oleh lelaki kekar.Yang langsung masuk dari
kiri -- temannya, dengan pistol, menyapu kesekitaran,meraih dompet di saku
belakang setelah membalikkan Arman, lantas berputar danmasuk dari kanan. Mesin
dihidupkan dengan sentakan kasar. Pintu dibanting dikanan. Mobil mendecit,
bagai meloncat ke luar. Orang-orang berda-tangan. Sebuahtaksi direm mendadak
karena dipapas oleh mobil yang bergegas ke luar. Xiamenurunkan jendela dan
berteriak memanggil. Sia-sia. Tak dipedulikan -- orang-orangitu tak mau peduli.
Orang-orang berdatangan. Tangan-tangan menunjuk sebelumsemua orang berkeliling
di sekitar Arman. Xia menahan jeritan yang mau membahanamenyatakan kaitan.
Menahan tangis. Berbalik ke taksi. Minta melaju dan menjauh darilelaki yang
diniatkan akan jadi pengganti suami yang payah. Kini impian itu sirna, iaharus
balik kandang. Untuk berapa lama?Dan malam merenggangkan ruas punggungnya.
Lantas kembali termangu -- sepertibiasanya. Tak peduli dan akan selalu tak
ambil peduli pada orang-orang yang sibukdengan diri sendiri dan urusan pribadi
masing-masing -- menyelinap dan mengendap-ngendap di labirin 1001 jalan
belakang dan selingkuh yang me-remang. Selalu.Senantiasa -- siang dan malam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Blogger news
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar