KAFE, SUATU SIANG
Siang yang
sedikit mendung. Langit gelap. Beberapa tetes hujan jatuh begitu
akumeninggalkan tempat parkir di sudut kampus. Beberapa mahasiswa yang ada
disekitar lapangan berhamburan mencari tempat berteduh. Aku pun berjalan
buru-buru,ingin sedikit menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi. Dari pagi
mulutku terasaasam, belum tersentuh kopi. Masih setengah jam lagi sebelum Arum
datang.Sedikit tergesa aku melangkahkan kaki menuju kafe kecil di sudut depan
kampus.Siang-siang begini, ditambah suasana yang dingin dan hujan membikin kafe
itupenuh. Ada yang sekadar ngobrol, makan, diskusi, menunggu seseorang -seperti
aku-mungkin, atau sekadar melamun. Tak ada hubungannya denganku. Yang
kubutuhkanhanya segelas kopi dan di dalam nanti mendapat sebuah kursi tempat
dudukkemudian membakar rokok. Itu saja.Dugaanku benar. Setelah berputar-putar
ruangan yang penuh asap itu aku mendapattempat di pinggir pintu keluar. Diapit
rombongan cewek-cewek genit yang cekikikan.Kukeluarkan rokok, membakar
sebatang, sebelum kemudian Irham datang mendekat."Pesan apa, Bung?"
Sapa laki-laki muda itu. Irham pelayan di kafe ini, masih duduk disemester
sembilan jurusan antropologi. Kami sering ngobrol saat dia sedang tak
sibuk."Kopi saja," kataku.Dia tertawa, menepuk pundakku.
"Menunggu Arum?" katanya kemudian."Hmm...hmm...." Aku masih
sibuk membakar rokok. Asem, korekku basah."Belum datang tuh," katanya, sambil mengeluarkan korek
dari saku kemudianmelemparkannya ke arahku."Iya, aku tahu." Aku
menyambut korek Irham. "Ayolah aku ingin kopi. Mulutku asam, nih."Ia menyeringai kemudian
berlalu.Secangkir kopi di siang yang hujan sambil menunggu sese- orang datang.
Aku gerahsendiri.Beberapa kali aku menghubungi nomor Arum, sekadar mengusir
kebosanan, tak ada jawaban. Barangkali telepon genggamnya dimatikan.
Mungkin ia masih sibukmeyakinkan sang dosen soal usulan judul skripsinya. Soal
berdebat, Arum jagonya.Kritis dan cenderung cerewet. Selalu ada yang salah di
matanya. Tidak maudiperintah. Hanya denganku ia tak berkutik. Tak sedikit pun
kecerewetan itu munculkalau aku punya kesalahan."Aku sudah menemukan judul
yang bagus untuk skripsiku. Peran teater dalammembentuk kepribadian, menurutku
ide yang menarik. Kamu bisa jadi sample penelitianku," katanya
malam itu. Aku terbahak mendengarnya.Aku ingat bagaimana dulu ia adalah
perempuan satu-satunya yang mampumenyelamatkan aku dari keterpurukan yang
parah. Dengannya, psikolog muda yang masih kuliah itu, aku kembali hidup.
"Tapi dosen sialan itu ngotot kalau tema initerlalu melebar, takut nggak
fokus. Sebel," ucapnya ketus.Aku tersenyum sendiri membayangkan Arum,
perempuan tomboi yang keras kepala.Ternyata, perempuan setegar Arum masih
membutuhkan air mata untukmenumpahkan emosi. Teater membentuknya jadi pribadi
yang keras kepala tetapicengeng. Tapi untunglah kuliahnya masih bisa berjalan
mulus, tidak sepertiku yangterpaksa menjadi adik kelasnnya gara-gara minggat
dari kampus empat tahun lalu.Aku mulai pusing dengan keramaian ini. Suara-suara
bising, tawa cekikikan danmataku yang tak bebas berkeliaran. Penyakitku mulai
kambuh kalau sudah begini.Aku mulai bosan. Tapi mau ke mana saat hujan
begini?Bosan makin menumpuk. Aku menghirup kopi dalam-dalam. Sesekali
matakuberkeliaran ke segala arah, siapa tahu ada orang di sekitar sini yang
kukenal. Hinggatiba-tiba pandanganku terpancang pada meja yang berada persis di
depan mejaku.Seorang gadis berkerudung tengah tertawa. Aha, ini dia. Kau pernah
melihat sebuahtawa yang merdeka? Sebuah tawa yang lepas begitu saja dari
sepasang bibir seoranggadis muda dan cantik pula, persis di antara orang
banyak? Tidak ada beban samasekali, tidak ada keterpaksaan. Begitu bebas,
begitu lepas, begitu merdeka.Lihat mata beningnya, memancarkan keriangan yang
tak mampu kuterjemahkan. Dantawanya seakan tercipta sejak ia dilahirkan. Tak
pernah lepas dari bibir mungilnyayang merah. Aku percaya, ia tak tengah
memamerkan barisan giginya yang putih rapipada setiap pengunjung di kafe ini.
Lagi pula apa pedulinya orang-orang, seoranggadis bercakap-cakap dengan
rekannya sambil tertawa adalah hal lumrah yang bisaterjadi di mana saja.
Barangkali ada sebuah cerita lucu-berantai yang diceritakanteman di depan atau
di sampingnya.Atau barangkali aku yang terlalu memperhatikan saat aku merasa
sendirian? Ah,bagaimana aku harus menjelaskan?Aku terus memperhatikan perempuan
yang bercakap-cakap sambil ketawa itu.Perempuan muda dengan kerudung merah
jambu, dengan baju gamis berwarna pink,di sebelah kanannya duduk seorang teman
perempuannya dan di sebelah kiri dandepannya beberapa lelaki.Selebihnya aku tak
tahu apakah itu memang teman-temannya atau hanya orang-orangyang menumpang
duduk di meja tersebut. Atau mungkin saja dia yang menumpangdi meja itu. Tempat
dan suasana di sini siapa yang bisa memastikan tentang siapa yangmenumpang dan
ditumpangi?Beberapa kali kami saling bertatapan sebelum kemudian ia kembali
tertawa. Takterganggu sama sekali oleh pandanganku. Saat seperti itu aku merasa
tidak ada yangdisembunyikan dari dirinya. Tidak juga tawa itu. Mengalir seperti
air.Kulihat teman perempuan di sampingnya berbisik pada si gadis sambil
melirikkubeberapa kali. Mata kami kembali bersitatap. Dia tersenyum. Pasti itu
buatku. Gila, aku mulai
edan hari ini. Laki-laki yang ada di sampingnya menatapku tidak senang.Bodoh
amat.Tiba-tiba ponselku bergetar. Dengan malas kuangkat juga, "Ya, Arum?
Di mana? Dikampus?" Aneh, tiba-tiba aku begitu malas berbicara dengan
perempuan yang sudahkukenal hampir tiga tahun itu. Perempuan aneh dan
membosankan. Arum perempuananeh dan membosankan? Tiba-tiba saja semua meluncur
begitu saja dari kepalaku."Aduh di sini hujan, sayang. Aku kayaknya nggak
bisa datang. Tadi pagi Pak Dhanitiba-tiba minta rapat mendadak membahas proyek
buku semalam. Sekarang? Nggak bisa
gitu dong, masa aku ninggalin rekan-rekan
dalam rapat ini. Ha, ya? Ya nggak tahu.Mungkin saja kelar sebelum makan siang.
Habis itu aku menjemputmu, ya?" Katakuberbohong.Di seberang Arum diam.
Kubayangkan perempuan yang tak bisa marah padaku itutengah memendam kecewa.
Tiba-tiba aku menjadi begitu tak peduli."Ya, setengah jam lagilah aku
datang." Aku mencoba menghiburnya. "Sudah ya?"Dengan tiba-tiba
aku mematikan ponselku. Rasa muak menjalar begitu saja. Entah darimana
datangnya.Hei, aku tiba-tiba saja berbohong kepada Arum. Perempuan yang
sebentar lagi akankunikahi. Kenapa aku tiba-tiba menjadi seperti ini? Adakah
karena perempuan yangtertawa dengan merdeka yang berada persis di depanku
itu?Aku tersenyum begitu melihat perempuan itu masih duduk di situ. Kali ini
dia tinggalsendirian. Dua temannya entah terbang ke mana. Kali ini dia
memandangku. Asem! Jangan-jangan dari tadi dia melihatku saat aku bicara
dengan Arum. Ah, kalau diabertanya akan kukatakan padanya bahwa tadi yang
meneleponku hanya perempuansialan yang sedikit sinting.Hujan mulai berhenti,
orang-orang mulai berebut keluar. Aku masih duduk di sini dangadis itu masih
duduk di depanku.Kenapa tiba-tiba saja aku jadi tertarik dengan perempuan yang hanya
sekali saja hadirdalam diriku pada sebuah siang, saat dia tertawa dan aku
tiba-tiba menyukainya. Apayang kutahu tentang dia? Aku telah berdusta kepada
Arum, perempuan yangmengikatkan cincin di jemari kiriku enam bulan yang lalu.
Kenapa tiba-tiba akumenjadi begitu muak dengan semua? Muak kepada perempuan
yang pernahmenyelamatkanku dari keterpurukan dan goncangan jiwa saat bencana
melandakeluargaku.Aku mendadak pusing. Dan perempuan di depanku masih duduk
sendiri. sesekalimata kami masih saling bertatap. Aku berdiri, barangkali
sebuah keberanian dankesempatan akan mengenalkan aku dengannya. Berkenalan,
bertanya nama, nomor hand phone dan waktu luangnya di akhir minggu.Atau sebuah
kemungkinan lain; aku buru-buru ke kasir, membayar minuman, lalukeluar, menghirup
udara segar seperti yang biasa aku lakukan sebelum kemudian ke tempat parkir dan menjumpai Arum,
perempuan yang beberapa saat ini tiba-tibabegitu membosankan.Entahlah.
Segalanya begitu tak pasti. Semua dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan.**
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Mengenai Saya
Blogger news
Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar